Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Aksi Teatrikal Mengenang 20 Tahun Kematian Munir: Potret Ketidakadilan yang Tak Kunjung Usai

Editor:  Fadli Tara
Reporter: Junaidi Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Aksi tetarikal oleh aktivis Hak Asasi Manusia, mementaskan pemerintah yang abai terhadap kasus kematian Munir sebagai pembela hak asasi manusia, Sabtu (7/9/2024). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Dalam rangka memperingati 20 tahun kematian Munir Said Thalib, Sejumlah aktivis Hak Asasi Manusia, aktivis HAM, menggelar aksi teatrikal.

Dalam aksi teatrikal tersebut, para aktor yang terdiri dari 3 orang, tampak berperan sebagai Prabowo, Gibran dan Jokowi. Aksi itu mempertontonkan, Prabowo-Gibran yang sedang berjoget, dan aktor Jokowi tampak berdiri tenang.

Baca Juga : Komisi X Dorong Keberpihakan pada PTS dan Perbaikan Tata Kelola Pendidikan Tinggi Nasional

"Pementasan ini menggambarkan pemerintah yang abai terhadap kasus kematian Munir sebagai pembela hak asasi manusia," jelas Aulia Rahman, Bidang Informasi dan Dokumentasi KontraS Sumut, Sabtu (7/9/2024).

Baca Juga : Menolak Lupa: 21 Tahun Kematian Munir Said Thalib

Tidak hanya itu, aksi teatrikal ini juga menyoroti lambannya proses hukum dalam kasus Munir, yang hingga kini belum menemukan titik terang.

Para aktor membawa spanduk bertuliskan, “20 Tahun Berlalu, Di Mana Keadilan untuk Munir?” sambil berjalan perlahan, menciptakan suasana yang penuh dengan kegelisahan dan kemarahan.

Baca Juga : Aksi Refleksi Kematian Munir: Seruan untuk Keadilan yang tak Usai

Seusai pementasan, Nikita salah satu aktivis HAM membacakan puisi. Dirinya membawakan sebuah puisi karya Wijhi Thukul, "Bunga dan Tembok."

Baca Juga : HUT ke-18 Partai Gerindra, Sekjen Sugiono Serukan Konsolidasi dan Aksi Nyata

Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak 

Kau hendaki tumbuh, engkau lebih suka membangun, rumah dan merampas tanah," sebut Nikita saat membacakan puisi.

Baca Juga : Cuaca Ekstrem Global Kian Menggila, DPR Soroti Lemahnya Pengelolaan SDA dan Mitigasi Bencana

Aksi teatrikal itu diakhiri dengan nyala lilin bersama sebagai simbol harapan akan keadilan yang belum terwujud.

Di tengah kegelapan malam, lilin-lilin tersebut menyala seperti bintang, menjadi pengingat bahwa perjuangan Munir akan terus hidup dalam hati rakyat Indonesia.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)