Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

TPID Sumut Rumuskan Upaya Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Strategis

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Rapat Koordinasi TPID Sumut. (foto: infosumut)

TPID Sumut Rumuskan Upaya Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Strategis

Nusantaraterkini.co, DELISERDANG - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) guna merumuskan kebijakan untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan strategis dalam upaya pengendalian inflasi.

Baca Juga : Prabowo Tegur Istilah ‘Uang Lelah’: TNI Dibekali Uang Semangat, Prajurit Tak Pernah Menyerah

Tiga tantangan struktural yang berpengaruh dan menjadi topik pembahasan dalam Rakor tersebut adalah aspek produksi, distribusi, maupun permintaan di tingkat konsumen.

Baca Juga : Gelar Rapat Koordinasi di Aceh, DPR Fokuskan Anggaran Pemulihan Pasca-Bencana, Libatkan Antarlembaga

Pj Gubernur Sumut Hassanudin diwakili Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Arief S Trinugroho mengatakan, dari sisi produksi, permasalahan yang tengah dihadapi adalah perubahan iklim dan cuaca ekstrem, seperti El nino yang tidak dapat dihindarkan di berbagai wilayah.

Kondisi ini dapat menimbulkan gagal panen, sehingga pasokan akan terganggu. Hal ini perlu diwaspadai agar tidak defisit pasokan pangan, terutama pada kota IHK (Indeks harga Konsumen),” kata Arief S Trinugroho saat membacakan sambutan Pj Gubernur Sumut di D’prima Hotel Kualanamu Deliserdang, Kamis (2/11/2023) malam.

Baca Juga : Rakor Pengendalian Inflasi, Pemkab Deli Serdang Komitmen Pastikan Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Jelang Ramadan 2026

Selanjutnya dari sisi distribusi, menurut Hassanudin, beberapa tantangan yang perlu segera diselesaikan adalah relatif panjangnya rantai distribusi, infrastruktur dan jaringan transportasi yang masih kurang memadai, dan minimalnya literasi pemanfaatan teknologi digital, sehingga tantangan ini mendorong kenaikan harga yang cukup tinggi di tingkat konsumen.

Baca Juga : Antisipasi Inflasi, Gubernur Bagi Solar Dryer Dome  ke Petani, Pedagang Lontong Wanti-Wanti

“Untuk menjawab tantangan di sisi distribusi ini, kita perlu melakukan beberapa upaya seperti mendorong perluasan kerja sama antardaerah yang terintegrasi dan melakukan digitalisasi rantai pasok pangan agar kita dapat memotong rantai yang tidak perlu dalam proses distribusi,” ujar Hassanudin.

Kemudian dari sisi permintaan, Hassanudin meminta agar dilakukan penguatan nilai tambah sektor pangan sebagai pilar ekonomi, dengan cara melakukan hilirisasi pada produk hasil pertanian, khususnya tanaman hortikultura.

“Hal ini dapat meminimalisir meningkatnya permintaan ketika pasokan sedang terbatas, karena sudah tersedia banyaknya pilihan produk turunan hortikultura di pasar,” kata Hassanudin.

Kepala Perwakilan Bank Indonesi (BI) Provinsi Sumut Wira Kusuma mengatakan, beberapa komoditas yang menjadi perhatian jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di akhir tahun ini, antara lain minyak goreng, telur ayam, daging ayam ikan dencis, sawi hijau dan aneka cabai. Termasuk beras.

“Beberapa permasalahan masih membayangi inflasi pangan termasuk beras dari sisi produksi, distribusi dan konsumsi memerlukan solusi jangka pendek dan jangka menengah, ujarnya.

Sebagai “quick win”, menurut Wira Kusuma, beberapa upaya yang perlu dilakukan dalam 1-2 bulan ke depan antara lain mengantisipasi potensi peningkatan curah hujan, memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan Satgas Pangan untuk mengawasi penjualan pangan, termasuk beras ke luar sumut.

Kemudian menurut Wira Kusuma, perlu juga pemanfaatan Belanja Tidak Terduga (BTT)) dalam bentuk subsidi ongkos angkut bahan pangan, serta dana dekon untuk pelaksanaan pasar murah.

“Bulog juga perlu mengawal impor beras ke Sumatera Utara untuk mengamankan pasokan. Ditambah optimalisasi peran BUMD atau PUD untuk stabiisasi pasokan dan harga,” pungkasnya.

(zie/Nusantaraterkini.co)