Nusantaraterkini.co, TIONGKOK-Dunia astronomi internasional dikejutkan oleh temuan terbaru yang berhasil diabadikan melalui teknologi canggih satelit milik Tiongkok. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan berhasil menangkap momen ekstrem ketika sebuah lubang hitam bermassa sedang melakukan "gangguan pasang surut" (tidal disruption) terhadap sebuah bintang katai putih.
Peristiwa yang sangat langka ini bermula saat teleskop sinar-X sudut lebar pada satelit tersebut mendeteksi pancaran radiasi luar biasa terang yang muncul secara mendadak dan berubah sangat cepat pada 2 Juli 2025. Penemuan ini segera memicu pengamatan masif lintas panjang gelombang oleh berbagai observatorium di seluruh dunia.
Baca Juga : Naik Paling Tinggi, Wisatawan Tiongkok Jadi Primadona Baru Pariwisata Sumut
Berdasarkan analisis mendalam dari Observatorium Astronomi Nasional Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (NAOC), pola kecerahan dan spektrum radiasi yang terekam sama sekali tidak menyerupai ledakan kosmik yang pernah tercatat sebelumnya. Karakteristik cahaya tersebut mengonfirmasi terjadinya fenomena penghancuran bintang akibat tarikan gravitasi lubang hitam yang maha dahsyat.
Baca Juga : Tiongkok Kokoh Jadi Pemasok Utama, Dominasi 41 Persen Impor Nonmigas Indonesia
“Fenomena ini sangat mirip dengan peristiwa gangguan pasang surut yang disertai semburan jet, ketika lubang hitam benar-benar merobek sebuah bintang,” ungkap Zhang Wenda, peneliti rekanan di NAOC, dalam keterangannya yang dilansir RMOL, Sabtu (14/2/2026).
Hal yang membuat temuan ini begitu istimewa adalah objek korbannya yang berupa bintang katai putih. Berbeda dengan bintang gas biasa yang sering kali menjadi "makanan" lubang hitam, katai putih adalah sisa inti bintang yang memiliki kepadatan hingga satu juta kali lipat dari Matahari.
Secara teoritis, hanya lubang hitam bermassa sedang (ratusan hingga ratusan ribu kali massa Matahari) yang memiliki kekuatan gravitasi yang presisi untuk merobek objek sepadat itu. Jika lubang hitam yang terlibat berukuran terlalu besar atau masif, bintang katai putih tersebut justru akan ditelan secara utuh tanpa sempat menghasilkan kilatan cahaya dramatis yang bisa ditangkap oleh teleskop manusia.
Meskipun saat ini komunitas sains telah mendokumentasikan lebih dari 100 peristiwa serupa, hampir seluruhnya melibatkan bintang biasa dengan proses penghancuran yang berlangsung selama bertahun-tahun. Penemuan bintang katai putih yang hancur dalam ledakan energi singkat dan intens ini membuka cakrawala baru dalam memahami perilaku lubang hitam bermassa sedang serta semburan plasma berkecepatan tinggi di alam semesta.
Pencapaian ini tidak hanya membuktikan kemajuan teknologi antariksa Tiongkok, tetapi juga memberikan potongan teka-teki penting dalam memahami evolusi bintang dan objek-objek eksotis di ruang angkasa yang selama ini hanya ada dalam ranah teori.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
