Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Jejak Historis Tradisi Mandi Pangir Jelang Ramadan, Dulu Dilaksanakan di Sungai

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Muhammad Ardiansyah
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi Mandi Pangir/Limau. (foto:istimewa)

Nusantaraterkini.coMEDAN-Tradisi mandi Pangir atau yang juga dikenal sebagai mandi Limau dengan berbagai rempah, masih hidup di tengah masyarakat Sumatera Utara. Tradisi ini umumnya dilakukan menjelang bulan suci Ramadan, tepatnya pada petang hari sebelum Magrib.

Secara historis, praktik ini telah dikenal sejak masa Kesultanan Melayu. Pada masa itu, pola kehidupan masyarakat yang berorientasi ke sungai menjadikan aliran air sebagai pusat aktivitas, termasuk ritual pembersihan diri.

Baca Juga : Polrestabes Medan Ungkap Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Libatkan Petugas SPBU, Berikut Lokasinya

"Saat ini, hal ini bergeser. Artinya, masyarakat sudah tidak melakukan mandi Pangir atau Limau di sungai-sungai seperti dahulu. Sekarang masyarakat melakukannya di rumah," kata Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), M Azis Rizky Lubis, Sabtu (14/2/2026).

Baca Juga : Satreskrim Polrestabes Medan Ungkap 33 Kasus Perjudian, 62 Orang Diamankan

Azis menjelaskan, seiring perubahan pola pemukiman dan perkembangan zaman, tradisi ini mengalami transformasi. Jika dahulu masyarakat tinggal menghadap sungai, kini rumah-rumah justru membelakanginya. Pergeseran orientasi ruang itu turut menggeser praktik mandi Pangir dari ruang publik di sungai ke ruang privat di dalam rumah.

Azis menyebut, pada prosesnya budaya mandi Pangir dilakukan dengan cara yang hampir sama oleh semua etnis. Ramuan jeruk Limau direbus terlebih dahulu, kemudian digunakan sebagai bilasan terakhir setelah mandi biasa. 

Baca Juga : Dianiaya Hingga Bersimbah Darah, Erwin Lapor ke Polsek Patumbak

Air limau tersebut tidak lagi dibilas ulang, melainkan menjadi penutup rangkaian mandi. Secara filosofis, mandi Pangir dimaknai sebagai simbol melunturkan dosa dan menyucikan diri. 

Baca Juga : Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur Resmikan Sekolah SPPG 2 Kemala Bhayangkari

"Sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki ibadah puasa. Dalam praktik keseharian, ia juga dimaknai sebagai cara menyegarkan tubuh dan mempersiapkan diri sebelum melaksanakan salat tarawih," ucap Azis.

Tradisi serupa tidak hanya ditemukan di kalangan Melayu. Di ranah Minangkabau juga dikenal praktik yang memiliki kemiripan. Hal ini menunjukkan adanya persinggungan budaya antarwilayah yang sulit ditentukan siapa yang lebih dahulu memengaruhi.

Baca Juga : Mengenal Tradisi Mandi Pangir yang Sering Dilakukan Masyarakat Sumut Menyambut Bulan Ramadan

Kedekatan etnis dan sejarah interaksi kawasan pesisir Sumatera memperlihatkan bahwa tradisi ini tumbuh dalam ruang kebudayaan yang saling berhubungan.

Baca Juga : Soal Tradisi Mandi Pangir di Sumut Sambut Bulan Suci Ramadan, Begini Kata MUI

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU itu menjelaskan, secara historis, mandi Pangir bukan sekadar ritual kebersihan, melainkan cerminan evolusi sosial masyarakat. 

Ia merekam pergeseran orientasi permukiman, perubahan ruang sosial, serta adaptasi tradisi terhadap modernitas. Dari sungai yang menjadi pusat kehidupan hingga kamar mandi di rumah-rumah modern, tradisi ini bertahan, meski dalam bentuk yang telah bertransformasi.

Di tengah arus urbanisasi dan perubahan gaya hidup, mandi panger menjadi pengingat bahwa jejak sejarah tidak selalu tertulis dalam arsip resmi, tetapi hidup dalam praktik keseharian masyarakat.

"Di dalam kebudayaan masyarakat Karo juga ada ritual Erpangir yang secara praktik dan filosofis memiliki kesamaan makna. Hanya saja, Erpangir tidak dilakukan jelang Ramadhan saja," ujarnya.

Zaman dulu kata Azis, pelaksanaan Erpangir juga umum dilakukan di sungai. Batu-batu di sepanjang sungai bahkan dilubangi sebagai tempat meracik atau meletakkan ramuan Panger, campuran air dan Limau yang digunakan dalam prosesi mandi tersebut.

“Dulu prosesnya memang dilakukan di sungai. Itu sebabnya kita menemukan batu-batu berlubang di tepian sungai. Fungsinya sebagai tempat panger,” ujarnya.

(Cw2/Nusantaraterkini.co)