Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.900 pada Perdagangan Kamis Pagi

Rupiah melemah 0,59% ke Rp17.900 per dolar AS pada Kamis pagi. Penguatan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menekan rupiah.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda melemah cukup tajam hingga dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp17.900.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada pukul 09.15 WIB tercatat melemah 0,59% ke posisi Rp17.900 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka turun 0,22% di level Rp17.835 per dolar AS. Setelah perdagangan berjalan, pelemahan semakin dalam dengan penurunan tambahan 65 poin dari posisi pembukaan.

Pergerakan tersebut sekaligus menghapus penguatan rupiah sehari sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (23/9/2026), rupiah sempat menguat 0,31% dan berakhir di level Rp17.795 per dolar AS.

Jika dibandingkan dengan posisi penutupan tersebut, rupiah telah terkoreksi 105 poin hingga pukul 09.15 WIB.

Di pasar global, dolar AS juga menunjukkan penguatan. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,04% ke level 101,132 pada pukul 09.00 WIB.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, ruang penguatan mata uang lainnya cenderung ikut terbatas.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Penguatan dolar AS turut dipengaruhi meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Sejumlah pejabat bank sentral AS kembali memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih dapat dipertahankan apabila tekanan inflasi belum mereda.

Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral AS kemungkinan masih membutuhkan kenaikan suku bunga untuk membantu menurunkan inflasi menuju sasaran.

Ekspektasi tersebut mendapat dukungan dari perkembangan ekonomi AS. Data S&P Global menunjukkan PMI Komposit AS meningkat dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September.

Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak Juli 2021. Penguatan aktivitas ekonomi terutama didorong meningkatnya pesanan baru.

Namun, kuatnya permintaan juga membawa tekanan terhadap harga. Kondisi ini menjadi perhatian pasar karena dapat membuat inflasi AS bertahan lebih lama dan memperkuat pertimbangan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Perkembangan dolar AS, kebijakan The Fed, serta data ekonomi Amerika Serikat selanjutnya masih menjadi faktor penting yang akan diperhatikan pelaku pasar dalam mencermati pergerakan rupiah.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru