Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada perdagangan Jumat (13/2/2026). Hingga pukul 09.11 WIB, rupiah berada di level Rp16.848 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,12 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp16.828 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Penguatan dolar membuat sejumlah mata uang kawasan bergerak di zona merah pada perdagangan pagi.
Yen Jepang mencatat depresiasi terdalam sebesar 0,32 persen, diikuti won Korea Selatan yang melemah 0,30 persen. Ringgit Malaysia turun 0,23 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,22 persen, serta baht Thailand melemah 0,13 persen.
Baca Juga : Rupiah Rebound ke Rp16.775, Dolar AS Tertekan Jelang Rilis Data Tenaga Kerja
Sementara itu, yuan China dan dolar Singapura sama-sama turun 0,10 persen, disusul peso Filipina yang melemah tipis 0,03 persen terhadap dolar AS. Rupiah sendiri tercatat mengalami pelemahan 0,12 persen pada periode yang sama.
Di antara mata uang Asia, hanya dolar Hong Kong yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di pasar global, indeks dolar AS—yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia—berada di level 96,99, naik dari posisi sebelumnya di 96,92. Kenaikan indeks dolar ini menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Baca Juga : Rupiah Bergerak Datar, Tekanan Pasar Obligasi dan Sentimen Moody’s Masih Membayangi
Pelaku pasar saat ini mencermati sentimen global, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta data ekonomi terbaru yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar dalam jangka pendek.
(Dra/nusantaraterkini.co).
