Nusantaraterkini.co, MEDAN – Menghadapi anak yang dikenal keras kepala memang sering menguji kesabaran orang tua. Nasihat terasa diabaikan, aturan seolah tak digubris. Namun, sikap tersebut sebenarnya bukan sekadar perilaku negatif. Dalam banyak kasus, keras kepala merupakan bagian dari proses tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.
Jika diarahkan dengan pendekatan yang tepat, sifat ini justru bisa berkembang menjadi keteguhan pendirian, keberanian, dan rasa percaya diri yang kuat. Kuncinya terletak pada pola asuh positif yang mengedepankan empati, komunikasi, dan konsistensi.
Berikut tujuh cara efektif mendidik anak keras kepala tanpa kekerasan:
Baca Juga : Semangat Menyembuhkan dalam Natal di RS Adam Malik Bersama Pasien
1. Kendalikan Emosi Sebelum Bertindak
Langkah pertama bukan memperbaiki anak, melainkan menenangkan diri sendiri. Saat orang tua mampu mengontrol emosi, respons yang diberikan akan lebih bijak dan tidak memicu konflik. Jika mulai kesal, ambil jeda sejenak, tarik napas dalam, lalu ajak anak berbicara dengan nada tenang.
2. Dengarkan, Jangan Sekadar Menasihati
Baca Juga : DWP RS Adam Malik Ajarkan Anak-anak Cuci Tangan dan Konsumsi Makanan Sehat
Anak keras kepala sering kali hanya ingin didengar. Cobalah bertanya apa yang ia rasakan atau inginkan. Dengarkan tanpa menyela atau menghakimi. Ketika anak merasa dipahami, ia cenderung lebih kooperatif dan terbuka terhadap arahan.
3. Beri Pilihan, Bukan Paksaan
Memaksa hanya akan memperbesar penolakan. Sebagai gantinya, tawarkan dua atau tiga opsi yang tetap berada dalam batas aturan orang tua. Misalnya, memilih waktu belajar atau menentukan menu makan malam. Anak tetap merasa punya kendali, tetapi arah keputusan tetap terjaga.
Baca Juga : Sertijab Direktur, RS Haji Komitmen Hadirkan Pelayanan Kesehatan Berlandaskan Islam
4. Tegas dan Konsisten dengan Aturan
Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung dan cenderung menguji batas. Tetapkan aturan yang jelas dan jalankan konsekuensi secara konsisten tanpa bentakan atau ancaman. Konsistensi membantu anak belajar tanggung jawab.
5. Ajarkan Cara Mengelola Emosi
Baca Juga : Transplantasi Solusi Terbaik Penyakit Ginjal Kronis, Pasien Bisa Gunakan Jaminan BPJS di RS Adam Malik
Bimbing anak mengenali dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat. Ajarkan bahwa marah atau kecewa itu wajar, tetapi harus disampaikan dengan baik. Misalnya, “Ayah tahu kamu kesal, tapi coba ceritakan tanpa berteriak.”
6. Jadilah Contoh yang Baik
Anak adalah peniru ulung. Jika orang tua ingin dihargai, maka mulailah dengan menghargai anak. Sikap sabar, tenang, dan penuh hormat akan menjadi cermin yang perlahan diikuti oleh si kecil.
Baca Juga : RS Adam Malik Lakukan Operasi Transplantasi Ginjal Ke-7, Berikutnya Dilakukan Secara Mandiri
7. Hindari Label Negatif
Menyebut anak “bandel” atau “keras kepala” justru dapat memperkuat perilaku tersebut. Gantilah dengan kalimat yang membangun, seperti, “Kamu punya pendirian yang kuat, ayo kita cari jalan tengah bersama.” Dukungan positif akan meningkatkan rasa percaya diri anak.
Pada dasarnya, mendidik anak keras kepala membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Pendekatan tanpa kekerasan, baik fisik maupun verbal, jauh lebih efektif dalam jangka panjang.
Baca Juga : Wamenkes RI Kunjungi Layanan Eksekutif RSUP HAM
Namun, jika perilaku anak semakin sulit dikendalikan, disertai agresivitas berlebihan atau membahayakan diri sendiri dan orang lain, orang tua disarankan berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti dokter atau psikolog anak.
Dengan pola asuh yang tepat, sikap keras kepala bukan lagi hambatan, melainkan potensi besar yang siap dibentuk menjadi karakter kuat di masa depan.
(Dra/nusantaraterkini.co).
