Rupiah Masih Tertekan, BI Diprediksi Kembali Naikkan Suku Bunga Jika Dolar AS Sentuh Rp18.200
Rupiah masih menghadapi tekanan dolar AS. Analis memperkirakan BI kembali menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan. Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09% ke level Rp17.859 per dolar Amerika Serikat (AS).
Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,11% ke posisi 101,13, mencerminkan masih kuatnya mata uang Negeri Paman Sam di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan, menilai keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026 mampu menahan laju pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Sebelum kebijakan tersebut diumumkan, rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Meski demikian, Lloyd mengingatkan bahwa peluang penguatan rupiah masih dibayangi berbagai faktor eksternal. Ketidakpastian global yang meningkat, tingginya imbal hasil obligasi AS, serta harga minyak dunia yang tetap tinggi menjadi tantangan bagi mata uang Garuda.
Selain itu, likuiditas dolar AS di pasar domestik dinilai masih ketat. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi sehingga membatasi ruang penguatan rupiah.
Dari sisi fundamental ekonomi, surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penurunan signifikan. Pada April 2026, surplus perdagangan tercatat hanya US$89 juta, jauh lebih rendah dibandingkan US$3,3 miliar pada Maret 2026.
Cadangan devisa Indonesia juga turun menjadi US$144,9 miliar dari posisi US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Sementara itu, inflasi pangan yang mencapai 6,2% secara tahunan (year-on-year) dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara lebih luas.
Melihat perkembangan tersebut, Lloyd memperkirakan Bank Indonesia masih memiliki peluang untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin pada kuartal III/2026, bahkan bisa dilakukan secepatnya pada Juli 2026.
Menurutnya, arah kebijakan moneter BI kini semakin mengarah pada langkah pengetatan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengantisipasi risiko inflasi yang meningkat.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.800 per dolar AS. Namun, prospek tersebut sangat bergantung pada kondisi geopolitik global, khususnya perkembangan konflik di Timur Tengah.
Apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat dan berlanjut hingga kuartal III/2026, rupiah berisiko kembali melemah menuju level Rp18.200 per dolar AS. Bahkan, lonjakan pelemahan secara tiba-tiba masih berpotensi terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian pasar global.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWAPembangunan Tong Pengolahan Emas di Desa Simalagi Madina Telan Korban Jiwa
Rozie Winata·15 menit yang lalu -
SUMSELGubernur Sumsel Tinjau Penanganan Karhutla dan Kondisi Gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan
Rozie Winata·27 menit yang lalu -
SUMUTBuddha Tzu Chi Bangun 241 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Padangsidimpuan
Rozie Winata·36 menit yang lalu -
NEWS VIDEOBuddha Tzu Chi Indonesia Kembali Bantu Korban Bencana, 241 Huntap di Padangsidimpuan Dibangun
Fadli Tara·40 menit yang lalu -
KRIMINALMasuk Panti Rehabilitasi, Pasien Narkoba Lapor Polisi karena Ngaku Dianiaya hingga Gendang Telinga Pecah
Rozie Winata·47 menit yang lalu -
NEWSTNI Berangkatkan 638 Prajurit Misi Perdamaian PBB ke Kongo
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NASIONALFilep Wamafma Minta Hak Daerah Penghasil Diperkuat dalam RUU Migas
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
KRIMINALKetua DPRD Sumut Bantah Sengaja Perlambat Penyidikan Kasus Dhody Thahir di Polda
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NEWSWarga Kampung Nelayan Seberang Belawan Minta Kejelasan Status Wilayah dan Kependudukan
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
PENDIDIKANPenambahan Anggaran Kemendiktisaintek Harus Berdampak Nyata Bagi Pendidikan
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan