Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.030 per Dolar AS, Sentimen The Fed dan Timur Tengah Jadi Tekanan
Rupiah diproyeksi bergerak fluktuatif hingga Rp18.030 per dolar AS. Sentimen The Fed, konflik Timur Tengah, dan inflasi menjadi perhatian pasar.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Meski sempat menguat dan kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya, tekanan dari faktor global diperkirakan masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Berdasarkan proyeksi pasar, rupiah berpotensi ditutup di kisaran Rp17.986 hingga Rp18.030 per dolar AS. Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), rupiah berhasil menguat 82 poin dan ditutup di level Rp17.986 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Menurutnya, The Fed diperkirakan masih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat guna memastikan inflasi kembali ke target 2 persen. Selain itu, kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi keputusan bank sentral AS.
"Meski inflasi mulai menunjukkan tren yang lebih terkendali, meningkatnya konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali berhati-hati karena berpotensi memicu tekanan inflasi baru," ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan, lonjakan harga energi dapat mempersempit ruang bagi The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya. Situasi tersebut membuat investor cenderung menahan diri dan meningkatkan kewaspadaan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas inflasi serta kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.
Ibrahim menilai pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan fiskal untuk meredam tekanan inflasi, terutama yang berasal dari komoditas pangan bergejolak (volatile food) dan kenaikan biaya produksi yang berpotensi mendorong harga barang.
Selain itu, ia menyoroti pengakuan terhadap independensi Bank Indonesia yang kembali ditegaskan dalam laporan terbaru S&P Global Ratings mengenai peringkat utang dan prospek ekonomi Indonesia. Sebelumnya, aspek independensi BI juga menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan Fitch Ratings.
Menurut Ibrahim, pengakuan tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar karena memperkuat kepercayaan investor terhadap kredibilitas kebijakan moneter Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
-
NEWSVideo WBP Diduga Pesta Sabu Viral, Lapas Tebingtinggi Dirazia: Tim Gabungan Temukan Sajam Hingga Handphone
hendra·3 jam yang lalu -
SUMSELMenko Pangan Tinjau Pembakaran Perdana PSEL Palembang, Sampah Keramasan Mulai Diolah Jadi Listrik
hendra·3 jam yang lalu -
-
NASIONALTrump dan Xi Redakan Ketegangan, Dunia Menatap Babak Baru Hubungan AS-Tiongkok
hendra·4 jam yang lalu -
NEWSSurat Advokat Jadi Objek Perkara Pidana, Hasrul Benny: Ini Kriminalisasi Produk Advokat
hendra·4 jam yang lalu -
KRIMINALPolisi Gagalkan Pengiriman 296 Cartridge Etomidate dari Malaysia ke Medan, Nilainya Rp888 Juta
hendra·5 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaster Mewah Lapas Cibinong Diusut, Menteri Imipas Siapkan Sanksi hingga Pencopotan
hendra·5 jam yang lalu -
KRIMINALBea Cukai Gagalkan Peredaran 2,3 Juta Batang Rokok Ilegal di Kutai Kartanegara
hendra·6 jam yang lalu -
NEWS287,2 Ton Jagung Berhasil Dikirim Polres Binjai ke Bulog Medan Sejak Program Ketahanan Pangan Polri Diluncurkan
hendra·6 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan