Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Melemah ke Rp17.667 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah melemah ke Rp17.667 per dolar AS akibat tekanan geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar AS.

Bagikan:
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (7/9/2026). Rupiah dibuka melemah 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.667 per di pasar spot.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan mentah dunia. Kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Mengutip , indeks dolar AS juga menguat 0,02 persen ke level 99,19. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,69 persen menjadi US$92,09 per barel. Harga minyak Brent turut menguat 0,56 persen ke kisaran US$96 per barel.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan pada awal pekan.

"Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah," kata Ibrahim.

Menurut dia, kenaikan dunia juga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Harga minyak yang lebih tinggi membuat kebutuhan untuk membiayai impor energi ikut meningkat.

"Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan," ujarnya.

Dari dalam negeri, aktivitas juga ikut terdampak oleh penutupan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 6–7 September 2026 menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup," tutur Ibrahim.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data nonfarm payrolls AS pada Agustus 2026 tercatat bertambah 162.000, jauh di atas proyeksi pasar sebesar 55.000. Tingkat pengangguran tercatat 4,1 persen.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve atau .

"Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tercermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60 persen, dari sekitar 50 persen, sehingga mendukung penguatan dolar AS," ujar Josua.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati keputusan The Fed dalam pertemuan September 2026. Penguatan dolar AS berpotensi menjadi sentimen tambahan bagi pergerakan rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.725 per dolar AS.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik, termasuk data cadangan devisa dan penjualan eceran nasional.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait