Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Kredit UMKM di Sumut Turun 1,77 Persen, OJK: Pembiayaan Produktif Perlu Diperkuat

UMKM oleh bank umum di Sumatera Utara (Sumut) pada Juli 2026 tercatat mengalami penurunan

Bagikan:
Kepala OJK Sumut Triyoga Laksito (tengah) saat memberikan penjelasan perihal penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) oleh bank umum di Sumatera Utara (Sumut) pada Juli 2026 tercatat mengalami penurunan secara tahunan (year on year/YoY). (dokumentasi Nusantaraterkini.co)
Kepala OJK Sumut Triyoga Laksito (tengah) saat memberikan penjelasan perihal penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) oleh bank umum di Sumatera Utara (Sumut) pada Juli 2026 tercatat mengalami penurunan secara tahunan (year on year/YoY). (dokumentasi Nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) oleh bank umum di Sumatera Utara (Sumut) pada Juli 2026 tercatat mengalami penurunan secara tahunan (year on year/YoY).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumut menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pembiayaan produktif bagi pelaku usaha masih perlu terus diperkuat.

Berdasarkan data konsolidasi, total di Sumut mencapai Rp80,4 triliun pada Juli 2026. Nilai itu turun 1,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp81,9 triliun.

Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, mengatakan penurunan tersebut menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM belum sekuat segmen pembiayaan lainnya, sehingga diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong akses pembiayaan yang lebih luas.

“Penyaluran kredit kepada sektor UMKM masih menjadi prioritas karena memiliki peran besar dalam mendorong pertumbuhan daerah. Meski secara tahunan mengalami penurunan tipis, ruang peningkatan pembiayaan produktif bagi pelaku UMKM di Sumatera Utara masih sangat terbuka,” kata Triyoga Laksito.

Porsi UMKM Masih 24 Persen

OJK mencatat struktur kredit bank umum di Sumut masih didominasi oleh kredit korporasi dengan porsi sekitar 47 persen dari total kredit. Sementara kredit konsumtif menyumbang sekitar 29 persen, dan kredit UMKM berada di kisaran 24 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan kepada sektor usaha kecil dan menengah masih sekitar seperempat dari keseluruhan portofolio kredit .

Menurut , peningkatan porsi menjadi satu peluang untuk memperkuat riil, terutama melalui pembiayaan usaha yang produktif dan berkelanjutan.

“Perbankan perlu terus memperluas akses pembiayaan yang sehat dan inklusif, disertai pendampingan kepada pelaku usaha agar kapasitas bisnis meningkat serta kualitas kredit tetap terjaga,” ujarnya.

NPL UMKM Naik Bertahap

Di sisi lain, kualitas kredit UMKM juga menjadi perhatian. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) UMKM mengalami kenaikan bertahap dalam satu tahun terakhir.

Pada Juli 2025, NPL UMKM berada di level 3,72 persen, kemudian meningkat menjadi 3,85 persen pada Desember 2025, dan kembali naik menjadi 4,10 persen pada Juli 2026.

Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah ambang batas 5 persen yang secara umum menjadi indikator tingkat kesehatan kualitas kredit perbankan.

Triyoga Laksito menegaskan bahwa peningkatan NPL perlu diantisipasi melalui penguatan manajemen risiko, pemantauan kualitas debitur, serta pendampingan terhadap UMKM agar tetap mampu memenuhi kewajiban kreditnya.

“Kenaikan NPL perlu menjadi perhatian bersama. Fokus kami bukan hanya mendorong pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan kualitas pembiayaan tetap terjaga sehingga sektor UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan,” pungkasnya.

(Akb/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru