Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

PT TPL Sebut Bentrok dengan Masyarakat Adat Didalangi LSM

Editor:  hendra
Reporter: Muhammad Alfi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Wakil Direktur Utama PT TPL, Jandres Silalahi (tengah) saat tengah memberikan keterangan pers di Jalan Hasanudin, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Selasa (23/09/2025) pagi. (Foto : Muhammad Alfi/Nusantaraterkini.co).

nusantaraterkini.co, MEDAN - Konflik antara kolompok masyarakat adat dengan PT Toba Pulp Lestari (TPL) terkait masalah penguasaan lahan kembali terjadi di Tanah Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Akibat konflik yang terjadi ini, masyarakat adat dengan PT TPL pun terlibat bentrok hingga menyebabkan beberapa warga dan karyawan ataupun pekerja (masyarakat setempat) terluka parah, Senin (22/09/2025) lalu.

Wakil Direktur Utama PT TPL, Jandres Silalahi saat memberikan ketetangan pers di Medan, Selasa (23/09/2025), membenarkan bahwa pihaknya berkonflik dengan sekelompok orang di tanah Sihaporas. 

Baca Juga : Konflik Timbulkan Keresahan Warga Budi Luhur, Tokoh Masyarakat Minta Pemkab dapat Turun Tangan

Dimana, konflik yang berakhir dengan bentrokan ini bermula pada saat pihak PT TPL tengah melakukan persiapan untuk kegiatan pemanenan dan penanaman di areal kerja Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan menggunakan sebuah excavator.

Tak jauh dari lokasi dengan jarak sekitar 25 meter dari areal kerja PT TPL, lalu muncul puluhan orang yang melakukan penghadangan terhadap karyawan, pekerja (masyarakat setempat), dan security yang ingin bekerja. 

"Pada saat itu, pekerja yang juga dari masyarakat sekitar bersama petugas security kami tengah melakukan persiapan untuk pemanenan dan penanaman. Namun, tiba-tiba di hadang oleh sekelompok orang," ujarnya.

Baca Juga : Bupati Tapsel Tegaskan Lahan APL di Konsesi PT TPL Clear and Clean

Sementara itu, jumlah orang yang melakukan penghadangan pun semakin bertamban. Dan selanjutnya karyawan, pekerja (masyarakat setempat), dan security PT TPL mencoba melakukan negosiasi untuk dapat melanjutkan pekerjaan.

"Kondisinya saat itu kelompok orang yang menghadang semakin bertambah, dan pihak security serta pekerja pun melakukan negoisasi dengan kelompok tersebut agar dapat tetap bekerja melalukan pemanenan dan penanaman," terang Jandres Silalahi.

Namun, negoisasi yang dilakukan tidak berjalan dengan baik. Dimana, saat itu kolompok masyarakat adat tetap melarang pekerja PT TPL untuk berkegiatan di lahan yang di klaim milik kelompok masyarakat adat.

Baca Juga : Mandala Memanas, 2 Kelompok Ormas Terlibat Bentrok usai Hadiri Acara Pelantikan

Sementara tim security PT TPL melakukan upaya pengamanan di areal kerja, agar karyawan beserta pekerja dapat mulai melakukan pekerjaan pemanenan tanaman eukaliptus yang ditanam oleh PT TPL. 

Akan tetapi, sekelompok orang kembali mendatangi karyawan, pekerja, dan security PT TPL yang sedang bekerja dengan membawa alat berupa pentungan kayu berduri, batu, dan juga diduga bom molotov. 

Akibatnya, aksi saling serang antara kelompok masyarakat adat dan security serta pekerja PT TPL pun tidak terhindarkan. Dimana, kedua belah pihak turut menjadi korban bentrokan tersebut.

Baca Juga : Bentrok Kelompok Ormas di Medan, Dua Orang Warga Jadi Korban

Pihak PT TPL pun mengklaim jika aksi penyerangan yang dilakukan kelompok masyatakat adat ini di dalangi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun, saat di singgung LSM apa yang menjadi dalang tersebut pihaknya tidak memberikan jawaban.

"Bahwa dalang dari penyerangan yang dilakukan sekelompok orang ini diduga didalangi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)," kata Wakil Dirut PT TPL kepada media.

Sementara, akibat bentrokan yang terjadi ini PT TPL menyebutkan jika sejumlah aset milik perusahaan turut di rusak dan di bakar oleh kelompok masyarakat yang diduga di dalangi LSM.

Baca Juga : Usai Hadiri Acara Pelantikan, Dua Kelompok Ormas Terlibat Bentrok

"Satu unit truk pemadam kebakaran dan satu unit mobil patroli mengalami kerusakan, serta lima orang pekerja dan security PT TPL mengalami luka berat sehingga dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan inap," ungkapnya. 

Atas peristiwa bentrokan ini, pihak TPL sendiri mengkalaim jika terdapat lima orang pekerja yang menjadi korban dan saat ini tengah menjalani perawatan di rumah sakit.

"Untuk korban dari kami sendiri ada lima orang, dan saat ini tengah dilakukan perawatan di rumah sakit," pungkasnya.

(Cw4/Nusantaraterkini.co).