Nusantaraterkini.co, MEDAN - Menutup pertemuan kegiatan pembelajaran di semester ganjil tahun ajaran 2025-2026, Program Studi Kesejahteraan Sosial (Prodi KS) FISIP UMSU menggelar kegiatan Kuliah Tamu pada mata kuliah Pembangunan Masyarakat Desa dan Kota, Rabu (7/1/2026).
Hadir sebagai pembicara Erick Prastyawan yang merupakan yang merupakan anggota BPD Sambirejo Timur dan Inisiator FASTi (Forum Anak Sambirejo Timur).
Ketua Prodi KS FISIP UMSU, Dr. Sahran Saputra, M.Sos mengatakan kegiatan kuliah tamu ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Prodi KS sebagai bagian dari penguatan materi pembelajaran dengan memberikan ruang kepada para praktisi yang memiliki pengalaman panjang untuk berbagi informasi dan good practis (praktik baik) yang selama ini telah dilakukan.
"Berbagi pengalaman ini penting bagi mahasiswa untuk dapat mengetahui kondisi sebenarnya dari lapangan. Ini kemudian kita sebuat sebagai belajar dari pengalaman praktik baik (good praktis). Jadi pengetahuan dan pemahaman mahasiswa tidak hanya disusun atas dasar kerangka konseptual yang rasional, tetapi juga diperkuat dengan kerangka empiris dari orang-orang yang sudah memiliki pengalaman dan berpraktik di lapangan,” jelas Sahran.
Baca Juga : Selama 2015–2025, Rp42 Triliun Dana Desa Tersalurkan ke Kabupaten di Sumut
Kuliah tamu yang dibawakan oleh Erick Prastyawan mengangkat tema “Dinamika Kehidupan Sosial Masyarakat Peri-Urban (Desa Semi Kota); Tantangan Dalam Masalah Kesejahteraan Sosial”.
Tema tersebut relevan dalam materi pembelajaran mata kuliah Pembangunan Masyarakat Desa-Kota yang melihat dinamika sosial dalam pembangunan masyarakat baik pada level desa dan kota.
“Jadi tema tentang masyarakat desa peri-urban ini relevan dalam kondisi saat ini. Apalagi banyak desa sekarang yang mengalami perubahan mendasar yang corak kehidupannya sudah mirip seperti perkotaan (peri-urban). Perluasan wilayah kota, membuat batas desa-desa yang ada dipinggiran kota menjadi bercorak perkotaan, dan kondisi tersebut juga didukung dengan banyaknya masyarakat kota yang mulai pindah ke desa-desa yang ada dipinggiran perkotaan. Tentu ini akan menjadi tantangan bagi pembangunan kesejahteraan di wilayah desa,” jelasnya.
Sementara itu, Erick Prastyawan dalam paparannya menyampaikan ciri utama desa peri-urban yang ditandai dengan adanya perubahan fungsi lahan, mata pencarian yang bersifat ganda, heterogenitas penduduk, dan nilai sosial yang sudah bercampur.
Perubahan-perubahan tersebut membawa dampak pada dinamika sosial masyarakat desa yang menjadi peri-urban; di mana struktur sosialnya memunculkan stratifikasi sosial baru, dan terjadinya pelemahan terhadap ikatan kekerabatan tradisional.
Baca Juga : 52 Persen Penduduk Tinggal Di Perkotaan, Ketua MPR Dorong Peningkatan Pembangunan Desa
“Dalam konteks dinamika sosial-ekonomi, kita bisa melihat adanya peralihan dari ekonomi agraris ke ekonomi non-pertanian. Adanya ketergantungan pada sektor informal dan kerja tidak tetap. Serta ketimpangan pendapatan antar kelompok masyarakat yang semakin terlihat. Kondisi ini menghasilkan tantangan bagi desa peri-urban yaitu terjadinya kemiskinan, munculnya kelompok pengangguran dan setengah menganggur, serta masalah peruhaman dan lingkungan,” jelas mahasiswa pascasarjana di Magister Ilmu Komunikasi UMSU ini.
Pada akhir kuliah tamu ini, Eric menyimpulkan bahwa masyarakat pada desa peri-urban berada dalam kondisi transisi sosial yang kompleks, menghadapi peluang sekaligus risiko kesejahteraan sosial. Baginya, pembelajaran tentang dinamika ini penting untuk membangun kesadaran kritis, kepekaan sosial, dan strategi pemberdayaan yang berkelanjutan.
(zie/Nusantaraterkini.co)
