Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Prancis Tentang Rencana Aneksasi Gaza dan Tepi Barat oleh Israel

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pasukan Israel terlihat di dekat perbatasan selatan dengan Gaza pada 20 Maret 2025. Militer Israel pada Kamis (20/3/2025) mengatakan bahwa pasukannya memperluas operasi darat mereka di Gaza selatan, bergerak menuju kamp pengungsi Shabura di Kota Rafah. (Foto: Xinhua/JINI)

Nusantaraterkini.co, PARIS - Menteri Urusan Eropa dan Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan, negaranya menentang segala bentuk aneksasi Gaza dan Tepi Barat oleh Israel.

“Prancis menentang segala bentuk aneksasi, baik itu Tepi Barat maupun Jalur Gaza,” ujar Barrot dalam sebuah konferensi pers selama kunjungannya ke Dijon, Prancis timur, Jumat (21/3/2025).

Menurut Barrot, Prancis memiliki "visi yang sangat jelas tentang bagaimana masa depan kawasan ini."

Baca Juga: Desak Hamas Bebaskan Sandera, Menhan Israel Ancam Aneksasi Area-Area di Gaza

“Ini merupakan solusi agar dua negara dapat hidup berdampingan secara damai, dengan saling mengakui dan jaminan keamanan. Ini merupakan satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan ini,” ujarnya.

Baca Juga: Serukan Gencatan Senjata Segera, Uni Eropa Kecam Serangan Udara Israel di Jalur Gaza

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, merasa yakin bahwa Israel akan mencaplok wilayah-wilayah di Jalur Gaza jika Hamas menolak untuk membebaskan para sandera yang tersisa.

Diketahui, Israel kembali melancarkan serangkaian serangan di Gaza pada Selasa (18/3/2025) setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas yang dimulai pada 19 Januari berakhir. Pasukan Israel kemudian melancarkan operasi darat di Gaza selatan, utara, dan tengah.

Menurut kantor media Gaza yang dikelola Hamas, jumlah korban tewas akibat serangan terbaru Israel di Gaza telah mendekati angka 600 orang, selain itu lebih dari 1.000 orang terluka.

(Zie/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua