Nusantaraterkini.co, MEDAN - Para pedagang buku bekas di Jalan Hitam, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, saat ini sedang berada ditengah isu penggusuran kembali. Meski sebatas isu, kabar tersebut telah menyebar ke seluruh pedagang.
Abu, salah satu pedagang, mengatakan jika kurang lebih empat bulan berita itu sampai kepada mereka. Meski belum diketahui kebenarannya, kata Abu, tentu hal tersebut akan kembali mempersulit aktivitas penjualan buku.
“Kita tidak tahu gitu, berapa lama lagi kami di sini, mau bagaimana kami nanti sesudahnya,” kata Abu kepada Nusantaraterkini.co saat diwawancarai di lokasi, Minggu (14/9/2025).
Baca Juga : Hari Kunjung Perpustakaan Nasional, Pedagang Buku Bekas di Medan Diterpa Isu Penggusuran
Namun, lokasi pasar buku yang sekarang berada di atas aset PT Kereta Api Indonesia itu disebut-sebut akan digunakan untuk hal lain.
“Jika penggusuran, ataupun kami nanti di relokasi kembali oleh pemerintah, kami berharap dapat lokasi yang lebih baik. Sebab, beli buku ini harus datang dulu. Saya kira, pemerintah harus tahu itu dan harus banyak membaca,” kata Abu.
Bagi Abu, keberadaan pasar buku bekas bisa menjadi perpustakaan alternatif untuk para warga atau calon pembeli. Mereka diperbolehkan terlebih dahulu membaca sebelum membelinya.
“Buku-buku ini juga bagian dari warisan budaya. Jadi, budaya itu bukan berarti haru bangunan bersejarah saja,” kata Abu.
Meski demikian, Donald pedagang lainnya, mengaku jika kondisi penjualan buku di lokasi tersebut tidak seperti di kawasan lapangan merdeka atau yang lebih dikenal Titi Gantung. Banyak pembeli saat ini, lebih memilih transaksi melalui metode daring.
“Ya sekarang pembeli banyak dari online. Enggak semua juga pedagang pandai menggunakan platform e-commerce itu,” kata Donald saat ditemui di kiosnya.
Berbeda dengan Abu, Donald mengaku tidak begitu khawatir apabila relokasi pedagang buku kembali terjadi. Sebab, menjalankan aktivitas jual daring sudah cukup dia pahami.
“Terkait isu penggusuran memang sudah beredar. Kami gak tahu kapan, tapi yang jelas sudah ada pengukuran dilakukan. Kalau relokasi dilakukan saya masih bisa berjualan dari rumah,” kata Donald yang masih sibuk membungkus sejumlah buku yang telah di pesan.
Amatan Nusantaraterkini.co, tampilan pasar buku bekas itu, terdiri dari dua lorong itu hanya terlihat tumpukan buku dan aktivitas para pedagang yang sibuk membungkus sejumlah buku saja.
Selain itu, deretan kios-kios yang tampilannya sergam berwarna biru juga banyak tutup. Hanya beberapa kios yang menunjukkan aktivitas jualan.
Baca Juga : Pameran Buku Chappy Hakim, Menghidupkan Kembali Ambisi Dirgantara Indonesia
Sementara itu, di tepi Jalan HM Yamin, tak jauh dari plang perlintasan kereta api, sejumlah perempuan yang juga pedagang buku duduk berjejer di bangku panjang yang sama. Mereka terlihat menyapa para pengendara.
“Belok-belok, beli buku,” ucap salah seorang pedagang sambil menunjuk area parkir kendaraan roda dua. Sesaat setelah itu, mereka kemudian menghampiri kita dan menanyakan selera buku seperti apa yang akan dibeli.
Jejak Pasar Buku Bekas Medan
Pasar buku bekas di Medan punya sejarah panjang. Pada dekade 1980-an, pedagang tersebar di kawasan Jalan Hindu, kemudian berpindah ke Jalan Pegadaian. Kala itu, lapak-lapak kayu berjejer rapat. Buku sekolah, novel sastra, kamus, hingga komik lawas laku keras.
Namun, sejak internet dan toko daring menjamur, geliat itu meredup. Pengunjung tak lagi ramai. Mahasiswa lebih suka mengunduh jurnal gratis. Anak sekolah mencari ringkasan di ponsel. Kini, pembeli hanya datang sesekali: kolektor yang mencari edisi terbitan Balai Pustaka tahun 1950-an, atau mahasiswa yang kehabisan uang saku.
(cw7/nusantaraterkini.co)
