nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan pertama November 2025. Tekanan terhadap mata uang Garuda meningkat setelah sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) kembali mengisyaratkan sikap moneter ketat atau hawkish.
Mengutip data Bloomberg, Senin (3/11/2025) pukul 09.16 WIB, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.631 per dolar AS, turun 21 poin atau 0,13 persen dibandingkan posisi penutupan Jumat (31/10/2025).
Dolar AS Menguat, Nada Hawkish The Fed Jadi Pemicu
Baca Juga : Rupiah Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Ditutup Melemah di Kisaran Rp16.800 per Dolar AS
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah kali ini sejalan dengan penguatan dolar AS di pasar global. Sentimen positif bagi dolar dipicu oleh pernyataan tegas tiga pejabat The Fed: Jeff Schmid, Lorie Logan, dan Beth Hammack.
"Nada hawkish dari beberapa Presiden The Fed kembali memperkuat posisi dolar. Mereka menegaskan kebijakan suku bunga tinggi masih diperlukan untuk menekan inflasi,” ujar Lukman, Senin (3/11/2025).
Data Domestik Jadi Penahan Tekanan
Baca Juga : Dolar AS Bangkit Usai Terseret, Pasar Bereaksi atas Penunjukan Kevin Warsh
Kendati demikian, Lukman menilai pelemahan rupiah masih bersifat terbatas. Ia menyebut rilis data PMI Manufaktur Indonesia yang lebih baik dari perkiraan bisa menahan tekanan lebih dalam terhadap kurs rupiah.
"Investor cenderung bersikap wait and see menunggu data ekonomi berikutnya seperti inflasi Oktober dan neraca perdagangan September,” tambahnya.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari berada di rentang Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS, seiring dengan sikap hati-hati pelaku pasar menghadapi ketidakpastian global.
Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan, Pasar Cermati Arah Suku Bunga dan Sentimen Global
The Fed Belum Siap Turunkan Suku Bunga
Dari eksternal, dolar AS menguat ke level tertinggi dalam hampir tiga bulan terakhir.
Presiden The Fed Kansas City, Jeff Schmid, menegaskan belum saatnya memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin karena pasar tenaga kerja AS masih kuat dan inflasi belum melandai secara signifikan.
Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah, Sentuh Rp16.871 per Dolar AS
Sementara itu, Lorie Logan dari The Fed Dallas menyebut belum ada alasan kuat untuk memangkas suku bunga pada Desember.
“Saya akan sulit menurunkan suku bunga kecuali inflasi menunjukkan penurunan yang jauh lebih cepat atau pasar tenaga kerja mulai melemah,” tegas Logan.
Senada, Beth Hammack dari The Fed Cleveland menilai kebijakan moneter ketat perlu dipertahankan lebih lama.
Baca Juga : Kurs Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Melemah Tertekan Sentimen The Fed dan Shutdown AS
“The Fed harus tetap menjaga tingkat pembatasan agar tekanan harga benar-benar turun ke level target,” ujarnya.
Investor Tetap Hati-hati
Kombinasi antara sikap hawkish The Fed dan minimnya katalis domestik membuat rupiah bergerak defensif di pasar valas. Pelaku pasar kini menantikan arah baru dari data ekonomi Indonesia serta kemungkinan perubahan sinyal kebijakan dari bank sentral AS dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga : IHSG Melemah Ikuti Tekanan Bursa Asia dan Global, Pasar Tunggu Rilis Data Ekonomi
(Dra/nusantaraterkini.co)
