nusantaraterkini.co, DELISERDANG – Pasar Aksara di Jalan Mesjid, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, menjelma menjadi bangunan megah tanpa denyut ekonomi. Proyek yang dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah dari APBN itu kini justru sepi dari kegiatan jual beli, nayris tidak ada kios yang beroperasi.
Pasar ini merupakan pengganti Pasar Aksara lama di Kota Medan yang terbakar pada 2016. Pemerintah lalu membangun pasar baru di atas lahan seluas 6.388 meter persegi dengan konsep “bangunan hijau”. Pada saat itu, kontraktor PT Citra Prasasti Konsorindo mulai mengerjakan proyek pada 2019, dengan biaya pembangunan yang tercatat mencapai Rp94 hingga Rp97,85 miliar dari APBN 2020-2021.
Bangunan empat lantai dengan total luas lebih dari 11 ribu meter persegi itu selesai dan diserahkelolakan ke Pemerintah Kota Medan pada Desember 2021. Setahun kemudian, pada awal 2023, pasar mulai dibuka untuk pedagang.
Baca Juga : Hambat Pertumbuhan UMKM, Komisi VI Dukung Penataan Izin Ritel Modern
Fasilitas yang disediakan cukup lengkap 204 los basah, 655 los kering, ditambah puluhan kios di basement, lantai satu, dua, hingga mezzanine. Total tersedia sekitar 700-an kios dan lapak.
Namun, harapan agar pasar ini kembali menggeliat pupus. Data terakhir, pada Jumat (3/10/2025) menunjukkan hanya tiga kios yang benar-benar aktif. Selebihnya kosong, pintu besi kios dibiarkan rapat, lorong-lorong pasar sepi tanpa pembeli.
Kata Jhonson, salah seorang pedagang, menyebutkan kondisi tersebut telah berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Banyak kalangan pedagang akhirnya memilih meninggalkan Pasar Aksara karena diduga tidak adanya koordinasi yang baik antara pedagang dengan pihak pengelola, yakni PUD Pasar Medan.
Baca Juga : Musim Kemarau, Harga Wortel di Samosir Meroket
“Menurut saya ini miskomunikasi antara pedagang dan pengelola. Pasarnya sudah bagus, tapi belum bisa beroperasi efektif,” kata Johnson saat ditemui di lokasi, Jumat sore.
“PUD Pasar sempat memfasilitasi ke bank soal modal, tapi sampai sekarang belum terealisasi,” tambah Johnson.
Selain itu, basement disebut kerap mengalami banjir ketika hujan tiba. Bahkan, kamar mandi mushola yang ada di lantai dua, juga tidak terawat dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Baca Juga : Bangunan Megah Pasar Aksara Deliserdang tak Berfungsi 3 Tahun Terakhir
Kondisi tersebut, kata Zulfan, Pengurus Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Sumatera Utara (P3TSU) pertanda jika pengelolaan pasar tidak optimal.
Lebih lanjut, Ia mengkritik penempatan pedagang sayur dan ikan di lantai tiga yang dinilainya tidak realistis. “Di Medan, orang beli sayur dari atas motor. Mana mau naik ke lantai tiga,” tutur Zulfan.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
