Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Odise Pemikiran Islam Transitif, Kolaborasi Rene Descartes dan Al Ghazali

Editor:  hendra
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Nasrullah (Bung Inas). (Foto, Dok Pribadi)

nusantaraterkini.co, MEDAN - Prof. Dr. Ansari Yamamah, MA pemikir cemerlang kelahiran Langkat, 24 Juni 1966, meniti perjalanan akademiknya dengan ketekunan luar biasa. Ia menyelesaikan Strata 1 di IAIN pada tahun 1991, meraih gelar magister di Leiden University, Belanda, pada tahun 1998, dan menuntaskan studi doktoralnya di UIN SU pada tahun 2013.

Sebagai penggagas Islam Transitif, gagasannya menembus batas epistemologi klasik dengan menghubungkan tradisi dan realitas kontemporer dalam bingkai pemikiran yang dinamis. Ia telah melahirkan ratusan karya ilmiah dan penelitian, dengan sejumlah buku monumental yang memperkokoh konsep Islam Transitif, di antaranya Islam Transitif Filsafat Milenial, Tafsir Al-Wasi' Islam Transitif, dan Ushul al-Fiqih Transitif. Melalui karyanya, ia tidak hanya menata ulang lanskap pemikiran Islam, tetapi juga menawarkan paradigma baru bagi dialektika ilmu dan kehidupan.

Dari ketiga buku karyanya, saya menilai bahwa pemikiran Prof Ansari Yamamah merupakan kolaborasi filosof timur yaitu Imam Al Ghazali dengan filosof barat Rene Descartes. Pemikiran Prof. Ansari Yamamah berakar pada tradisi dialektis yang menghubungkan akal dan spiritualitas, sebuah jejak intelektual yang banyak diwarnai oleh Al-Ghazali. Seperti sang Hujjatul Islam, ia merajut filsafat dan tasawuf dalam harmoni, menjadikan akal sebagai instrumen pencarian kebenaran tanpa menanggalkan dimensi transendental.

Baca Juga : Islam Transitif versus Islam Transkriptif

Di sisi lain, pemikirannya menemukan resonansi dengan René Descartes, di mana rasio tidak hanya menjadi alat berpikir, tetapi juga landasan untuk menegaskan eksistensi Tuhan sebagai kepastian mutlak. Dalam Islam Transitif, Prof. Ansari Yamamah menyusun sintesis dari dua tradisi ini—memadukan nalar kritis dan kedalaman spiritual—sehingga menghasilkan paradigma yang menolak dikotomi antara sains dan iman, serta membangun epistemologi yang dinamis, relevan, dan berorientasi pada kemaslahatan universal.

Al Ghazali menemukan kepastian dalam pengalaman mistis (kashf) dan keyakinan terhadap Tuhan melalui tasawuf, sementara Rene Descartes menemukan satu kebenaran dan kepastian yang tak terbantahkan melalui Cogito, Ergo Sum (Aku Berpikir, maka Aku Ada). Sebab berfikir itu karena Tuhan yang memberikan kepastian pada akal manusia. Jadi Rene Decartes tetap mengakui bahwa kepastian itu hanya pada Tuhan.

Islam Transitif bukan sekadar gagasan, tetapi sebuah revolusi epistemologis yang menantang arus pemikiran konvensional. Sebagaimana setiap ide besar dalam sejarah, ia tak luput dari perlawanan dan penolakan, meski di saat yang sama mendapatkan dukungan dari para pencari kebenaran.

Inilah yang disebut sebagai Odise Pemikiran—sebuah perjalanan intelektual yang sarat dengan dialektika, perdebatan, dan pergulatan konseptual. Prof. Ansari Yamamah memahami bahwa setiap perubahan besar selalu berhadapan dengan resistensi, namun justru dari benturan inilah gagasan diuji, diperkuat, dan menemukan relevansinya dalam peradaban. Islam Transitif, dengan segala polemiknya, bukan sekadar wacana, melainkan gerakan rasionalitas yang terus meniti gelombang sejarah.

Kolaborasi Akal Timur dan Barat

Islam transitif bukan sekadar doktrin teologis yang statis, melainkan sebuah paradigma dinamis yang menghubungkan rasionalitas dengan kompleksitas realitas manusia. Ia beroperasi dalam ruang dialektika antara teks dan konteks, antara wahyu dan pengalaman empiris, sehingga melahirkan rekayasa sains dan teknologi yang tidak hanya kompatibel dengan etika, tetapi juga berkelanjutan dalam tatanan ekologi semesta.

Dalam bingkai ini, Islam transitif memelihara keterhubungan geneologis makhluk hidup, memastikan kesinambungan eksistensi dalam seluruh pranata kehidupan. Ia tidak berhenti pada formulasi normatif, melainkan bertransformasi menjadi aksi intelektual yang menata ulang sistem sosial, ekonomi, dan politik berbasis harmoni serta kemaslahatan universal.

Prof. Ansari Yamamah menggagas Islam Transitif dengan inspirasi mendalam dari bait syair Rudyard Kipling: "Oh, East is East, and West is West, and never the twain shall meet..." Sebuah ilustrasi bahwa Timur dan Barat, meski terpisah secara fisik dan teritorial, bukan entitas yang saling menegasikan, melainkan saudara kembar dalam dinamika sejarah peradaban.

Dalam Islam Transitif, gagasan ini menjelma menjadi kerangka epistemologis yang menolak dikotomi absolut, tetapi membangun sintesis rasional antara teks dan realitas, tradisi dan modernitas, spiritualitas dan sains. Prof. Ansari Yamamah melihat bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan modal intelektual yang memungkinkan kolaborasi akal untuk menata ulang pemikiran Islam dalam lanskap global tanpa kehilangan identitasnya.

Prof. Ansari Yamamah menolak keterkungkungan dalam ego intelektual "aku" dan eksklusivitas komunal "kami." Baginya, berpikir harus melampaui batas identitas partikular menuju cakrawala "mereka" dan "kita"—sebuah kesadaran transformatif yang menempatkan keberagaman sebagai ruang dialog, bukan sekadar perbedaan (lihat Islam Transitif, hlm 9).

Dalam Islam Transitif, ia merumuskan bahwa kebenaran tidak lahir dari menara gading monologis, tetapi dari pertemuan perspektif yang melibatkan narasi lain. Dengan itu, akal tidak hanya memahami dirinya sendiri, tetapi juga mengonstruksi dunia dalam lanskap yang lebih luas, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan universal.

Gerakan Total Produksi

Prof. Ansari Yamamah merumuskan Gerakan Total Produksi sebagai arsitektur peradaban yang tidak sekadar bereaksi terhadap zaman, tetapi menciptakan masa depan dengan empat karakter utama.

Pertama, berbasis gerak, yakni menjadikan dinamika sebagai prinsip, menolak stagnasi, dan keluar dari jebakan zona nyaman. Kedua, berbasis masa depan, membangun visi progresif dengan keberanian melepaskan keterikatan tradisional tanpa kehilangan akar, seraya membuka diri pada inovasi. Ketiga, berbasis karakter, meneguhkan nilai tahu diri dan berbalas budi, baik terhadap sesama manusia maupun kepada Tuhan sebagai puncak kesadaran moral. Keempat, berbasis perlindungan, yakni membela yang lemah, menjaga hak-hak fundamental manusia, dan menegakkan prinsip hifz ad-din (menjaga agama), hifz an-nafs (melindungi jiwa), hifz al-‘aql (menjaga akal), hifz an-nasl (menjaga keturunan), serta hifz al-mal (melindungi harta) sebagai pilar keadaban universal.

Dengan kerangka ini, Gerakan Total Produksi bukan sekadar gagasan, melainkan aksi transformatif yang menghidupkan akal, menggerakkan peradaban, dan meneguhkan tanggung jawab manusia dalam sejarah.

Penutup

Pemikiran keislaman tidak boleh terjebak dalam nostalgia kejayaan referensi klasik semata, tetapi harus berani melahirkan narasi modernis yang relevan dengan realitas kontemporer. Kekayaan tradisi intelektual masa lalu bukanlah tujuan akhir, melainkan pijakan untuk membangun visi baru yang lebih progresif.

Islam Transitif hadir sebagai misi intelektual yang mengkolaborasikan akal dalam dua dimensi fundamental: kemanusiaan dan keTuhanan. Di sinilah Islam harus direposisi—bukan sekadar agama yang menjaga warisan, tetapi juga agama pembaruan yang aktif merespons tantangan zaman tanpa kehilangan esensi ketuhanannya. Dengan paradigma ini, Islam tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi kekuatan transformatif yang terus menghidupi peradaban.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Oleh: Nasrullah (Bung Inas)

Penulis Pengamat dan Kolumnis Hukum dan Sosial