nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (30/10/2025). Pergerakan rupiah yang tertekan sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang utama di kawasan Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.636 per dolar AS, terkoreksi 0,11% dibandingkan posisi sebelumnya. Di sisi lain, indeks dolar AS juga turun 0,06% menjadi 99,16.
Sejumlah mata uang Asia ikut tertekan, seperti yen Jepang yang turun 0,61%, dolar Singapura melemah 0,15%, dolar Taiwan susut 0,34%, won Korea turun 0,52%, peso Filipina melemah 0,27%, serta rupee India terkoreksi 0,52%.
Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760
Selain itu, yuan China turun 0,15%, ringgit Malaysia melemah 0,25%, dan baht Thailand terkoreksi 0,08%. Hanya dolar Hong Kong yang berhasil menguat tipis 0,03%.
Tekanan dari Kebijakan Bank Sentral Jepang
Mengutip Reuters, pelemahan yen Jepang menjadi salah satu faktor yang menyeret sentimen di Asia. Hal ini terjadi setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,5%, sesuai ekspektasi pasar.
Baca Juga : Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Tertekan ke Rp16.770
Meski demikian, keputusan BoJ dinilai terlalu berhati-hati. Dari total anggota dewan kebijakan, hanya dua yang mendukung rencana kenaikan suku bunga lanjutan—jumlah yang sama seperti pada rapat bulan September lalu.
Gubernur BoJ Kazuo Ueda juga belum memberikan kejelasan soal waktu kenaikan bunga berikutnya. Akibatnya, yen tertekan hingga menyentuh level 153,52 per dolar AS, terendah dalam beberapa bulan terakhir. Yen juga sempat anjlok ke 178,39 per euro, sementara poundsterling menguat 0,5% ke 202,45 yen.
Pasar Tunggu Kejelasan Perjanjian Dagang AS–China
Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Bergerak Dekati Rp 17.000 per Dolar AS
Sementara itu, pergerakan mata uang global juga dipengaruhi kabar terbaru dari hubungan dagang antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Trump menyebut telah menyetujui pengurangan tarif untuk China sebagai imbalan atas kesediaan Beijing membeli kembali kedelai AS, menjaga pasokan rare earth, dan memperketat pengawasan perdagangan fentanil.
Namun, detail kesepakatan tersebut masih belum jelas, dan pihak China belum memberikan pernyataan resmi, sehingga pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.
Analis mata uang dari Bank of Singapore, Sim Moh Siong, menilai perbedaan sikap kebijakan moneter antara AS dan Jepang turut memperlebar jarak pergerakan mata uang.
Baca Juga : Rupiah Menguat Terbatas ke Rp16.771 per Dolar AS, Pasar Waspada Jelang Libur Nataru
“Ada kontras yang mencolok antara Bank of Japan yang masih berhati-hati menaikkan suku bunga dan Federal Reserve yang justru berhati-hati dalam memangkas suku bunga,” ujarnya dikutip dari Reuters, Kamis (30/10/2025).
(Dra/nusantaraterkini.co)
