Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Minyak Rusia Beralih ke Asia, China Jadi Incaran Utama Usai India Rem Mendadak

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kapal tanker minyak Rusia Ust Luga diblokir Aktivis Greenpeace di Norwegia saat hendak menurunkan muatannya di dekat Asgardstrand, Norwegia pada Senin (25/4/2022). Foto: Ole Berg-Rusten/NTB/ via Reuters

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Arus minyak mentah Urals asal Rusia kembali mengalir deras ke kawasan Asia seiring berkurangnya permintaan dari India. Dalam situasi ini, China muncul sebagai target utama penyerapan pasokan yang dialihkan tersebut.

Mengutip laporan Bloomberg, Sabtu (7/2/2026), sejumlah kapal tanker pembawa minyak Urals kini terlihat bergerak menuju perairan Asia. Peralihan ini menandai upaya produsen Rusia mencari pasar baru setelah India mulai menarik diri dari perdagangan minyak Rusia.

Data perusahaan intelijen energi Kpler mencatat, sekitar 10 hingga 12 juta barel minyak Urals saat ini berada di laut, tersebar di Samudra Hindia serta perairan sekitar Malaysia, China, dan Rusia. Lima kapal di antaranya berstatus “to order” atau “China order”, yang mengindikasikan belum adanya kepastian pembeli maupun pelabuhan tujuan.

Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Bergerak Diramalkan Berfluktuatif Hari Ini

Sementara itu, enam kapal lainnya diperkirakan menuju Singapura dan Malaysia. Lokasi tersebut dikenal sebagai pusat transfer antar kapal (ship-to-ship transfer) di Laut Cina Selatan, yang sering dimanfaatkan untuk menunggu pembeli sebelum minyak dibongkar. Empat kapal tambahan tercatat mengapung di sekitar perairan Malaysia, China, dan wilayah timur Rusia tanpa tujuan jelas.

Minyak Urals selama ini menjadi komoditas andalan Rusia yang diekspor dari pelabuhan Laut Baltik. Sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada awal 2022, minyak ini menjadi favorit kilang India berkat harganya yang jauh lebih murah.

Namun, tekanan dari Amerika Serikat membuat impor India merosot tajam. Pada Januari, volume impor tercatat rata-rata 1,2 juta barel per hari, turun signifikan dibandingkan puncaknya yang sempat melampaui 2 juta barel per hari pada pertengahan 2024.

Baca Juga : Harga Emas Spot Turun 3% Bertengger di Level US$ 3.281,6 Per Ons

Tekanan diperkirakan berlanjut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan India akan menghentikan pembelian minyak Rusia sebagai bagian dari kesepakatan penurunan tarif perdagangan. Meski Perdana Menteri India Narendra Modi membenarkan adanya kesepakatan tersebut, belum ada penjelasan resmi terkait kebijakan impor minyak, sehingga sejumlah kilang memilih menunda pembelian.

Di sisi lain, belum ada kepastian ke mana limpahan minyak Urals tersebut akan berlabuh. Kilang independen China memang dikenal agresif menyerap minyak Rusia, namun mereka cenderung memprioritaskan jenis ESPO dan Sokol yang dikirim dari kawasan Pasifik Rusia.

Sepanjang Januari, China tercatat mengimpor sekitar 500.000 barel per hari minyak Urals, angka tertinggi sejauh ini, tetapi masih belum cukup untuk menyerap pasokan yang dialihkan dari India.

Baca Juga : Alami Tekanan Besar, Apakah BTC Bisa Kembali Bangkit Setelah Ekonomi AS Terpuruk?

Situasi ini kian menantang bagi Rusia di tengah ancaman kelebihan pasokan minyak global. Bagi pembeli, kondisi tersebut justru menghadirkan peluang karena diskon harga minyak Urals semakin melebar sejak pernyataan Trump terkait India. Alhasil, risiko penumpukan kargo tak terjual di Asia pun semakin besar.

Saat ini, lebih dari selusin kapal tanker bermuatan minyak Urals masih berlayar di Samudra Atlantik, Laut Mediterania, dan Laut Merah, dengan tujuan awal Singapura. Namun, pelabuhan akhir masih dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan pasar.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Baca Juga : Komisi IV Minta Pemerintah Segera Mapping Pembelian Gabah Kering Panen