Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sejumlah Kandidat Menteri Belum Jadi Kabar Baik bagi IHSG dan Rupiah, Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Elvirida Lady Angel Purba
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin./Ist

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami pergerakan fluktuatif pada akhir pekan ini, ditengah ketidakpastian kondisi global dan sentimen dalam negeri yang belum mampu membawa angin segar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah.

Beberapa faktor eksternal, termasuk data ekonomi AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, masih mendominasi arah pasar, sementara penunjukan sejumlah kandidat menteri dalam kabinet Prabowo belum memberi dampak positif yang signifikan.

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, menyebut, data ekonomi dari Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini memberikan gambaran bahwa ekonomi AS tetap solid. 

Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish

"Penjualan ritel dan klaim pengangguran AS menunjukkan bahwa perekonomian masih kuat, sehingga menambah keyakinan bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru dalam menurunkan suku bunga acuan," ujar Gunawan.

 Kondisi ini tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun yang mencapai 4,096%, serta penguatan indeks dolar AS di level 103,83.

Sebagai dampaknya, Rupiah dibuka melemah di level Rp15.505 per dolar AS pada perdagangan pagi hari. 

Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Jaga Ekonomi Sumut di Level 5% pada 2026

"Rupiah berpotensi bergerak dalam rentang 15.480 hingga 15.550 pada sesi perdagangan akhir pekan ini, dengan sentimen global masih mendominasi pergerakan nilai tukar," tambah Gunawan.

Namun, IHSG sempat memberikan sinyal positif pada sesi awal perdagangan dengan dibuka menguat tipis di level 7.762. Mayoritas bursa saham di Asia juga menunjukkan tren positif dengan berada di zona hijau. Meski demikian, IHSG diprediksi masih akan bergerak fluktuatif sepanjang hari, dengan perkiraan pergerakan dalam rentang 7.700 hingga 7.790. 

"Sentimen dari dalam negeri, seperti penunjukan calon menteri dalam kabinet Prabowo, belum cukup kuat untuk mendongkrak IHSG secara signifikan," ungkapnya.

Perdagangan hari ini menjadi bukti bagaimana pasar keuangan masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. IHSG bergerak sangat volatile, sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi 7.790 sebelum akhirnya berbalik arah dan berada di zona merah, dengan level terendah mencapai 7.718. Gunawan menjelaskan bahwa volatilitas ini juga terlihat pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

"Saham-saham seperti BBCA, BMRI, BBNI, hingga BBRI sempat menikmati penguatan besar pada sesi pagi, namun sebagian di antaranya, seperti BBRI dan BMRI, akhirnya ditutup di zona merah," tambahnya.

Pada sesi penutupan, IHSG berhasil menguat 0,32% dan berada di level 7.760,060. Meskipun demikian, fluktuasi yang terjadi sepanjang hari mencerminkan sentimen eksternal yang masih mempengaruhi pasar, khususnya dari kinerja bursa Asia yang belum stabil.

 "Ketidakpastian global, terutama tensi geopolitik di Timur Tengah serta pemilu di AS, menjadi faktor yang terus dipantau oleh pelaku pasar," jelas Gunawan.

Salah satu komoditas yang mengalami penguatan signifikan adalah emas. Harga emas mencapai rekor tertinggi baru dengan diperdagangkan di level $2.704 per ons troy, atau setara dengan Rp1,36 juta per gram. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian terkait pemilihan presiden di Amerika Serikat. 

"Harga emas terus menguat seiring dengan semakin memanasnya konflik di Timur Tengah, membuat pelaku pasar memilih emas sebagai aset aman," papar Gunawan.

Pada penutupan perdagangan, harga emas naik lebih lanjut ke level $2.711 per ons troy, memperkuat posisinya sebagai salah satu instrumen investasi yang diminati di tengah situasi global yang tidak menentu.

Sementara itu, mata uang Rupiah berhasil ditutup menguat di level Rp15.460 per dolar AS. Penguatan Rupiah terutama didorong oleh pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya, seperti Yuan China, Dolar Singapura, dan Rupe India.

 "Pelemahan dolar AS terhadap mata uang di Asia, termasuk Rupiah, terjadi di tengah ketidakpastian hasil pemilu di AS serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah," ungkap Gunawan.

Dia juga menambahkan bahwa penguatan Rupiah hari ini dapat memberikan sedikit nafas bagi perekonomian Indonesia, meski masih ada tantangan dari sisi eksternal yang harus diwaspadai. 

"Meskipun Rupiah berhasil menguat, volatilitas pasar keuangan global masih tinggi dan memerlukan perhatian lebih lanjut dari para pelaku pasar dan pemerintah," tutupnya.

(cw9/nusantaraterkini.co)