Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Menilik Haji Misbah Nama Satu Jalan di Kota Medan, Bukan Dalam Buku Sejarah!

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Potret Suasana sore di Jalan Haji Misbah, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), pada Minggu (1/6/2025) saat dilintasi oleh Becak Motor (Betor). (Fofo: Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN – Jalan Haji Misbah (Haji Misbach) yang berada di wilayah Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, menarik untuk dibahas. Mulai dari latar belakang serta apa sumbangsih Muhammad Misbach untuk kota yang berjulukan Paris Van Sumatera ini. Terlebih Misbach punya hubungan baik dengan Ideologi Komunis serta Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pasalnya, pria yang lahir di Kauman, Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1876 ini punya peranan besar dalam gerakan Komunisme di Indonesia. Bahkan, akibat aktivitasnya itu ia sampai diasingkan ke Manokwari, Papua, pada tahun 1926 oleh Pemerintah Belanda sebab mengkritik sistem Kapitalisme dan Kolonialisme lewat tulisannya serta aktivismenya di lapangan. Nahas, tokoh yang juga dijuluki sebagai Haji Merah ini meninggal dunia pada masa pengasingannya. Kematiannya dituliskan akibat terkena malaria.

Baca Juga: Beres 100 Persen, Provinsi Sumut Berhasil Bentuk 6.110 Koperasi Merah Putih di Seluruh Desa/Kelurahan

Hal yang menarik lainnya untuk dibahas terkait nama jalan tersebut bukan hanya tentang apa yang melatari nama Misbach diabadikan sebagai nama jalan di Kota Medan. Sejumlah warga ternyata banyak yang tidak mengetahui bahwa nama jalan itu diambil dari seorang yang berupaya mengawinkan paham Islam dengan Komunisme sebagai alat pembebasan dari kungkungan Kolonialisme.

Seperti Agung Hartono warga setempat. Dia mengaku tidak pernah mengenal sosok Haji Misbach, meskipun dia telah tinggal kurang lebih selama 29 tahun di lokasi yang dipadati oleh kaum pedagang.

“Saya tak pernah tahu siapa Haji Misbah. Dan orang Medan sendiri pun saya kira pasti hanya mengingat Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth kalau mendangar nama jalan ini,” ucapnya kepada Nusantaraterkini.co saat diwawancarai di lokasi, pada Minggu (1/6/2025).

Bahkan, sejarawan Sumatera Utara (Sumut), Erond Litno Damanik, menyebutkan jika penamaan Jalan Haji Misbach di sejumlah daerah di Sumut, seperti Kota Kisaran merupakan anomali atau sebuah kejanggalan.

Sebab, kata Erond, Haji Misbach secara historis tidak memiliki hubungan apapun dengan wilayah yang kaya akan keberagaman ini. Berbeda dengan nama Tan Malaka yang pernah menjadi guru di daerah Sinembah, Kabupaten Deliserdang dan Kota Medan pada 1919 hingga 1921.

Nah, dasar inilah yang membuat reporter ingin menggali apakah penamaan Jalan Haji Misbach di Medan merupakan upaya rekonsiliasi sejarah terhadap tokoh-tokoh yang dulu dikucilkan karena afiliasi ideologisnya, atau sekedar bentuk simbolik tanpa pemaknaan mendalam?. 

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa pola atau mekanisme penamaan jalan di seluruh Indonesia saat ini belum jelas. Sehingga kerap dilakukan dengan cara yang berbeda-beda atau tidak seragam dan tergantung pada kebijakan masing-masing daerah, beberapa ada yang ditetapkan oleh Gubernurnya, Wali Kotanya, hingga ada yang harus mendapat persetujuan dari lembaga legislatif. 

Meskipun demikian, Erond memperkirakan jika penamaan Jalan Haji Misbach bermula pada era 70-an. Saat itu, latensi atau periode paham Komunisme tidak menjadi hal yang tabu di masyarakat. Sebab, pada masa itu semua kelompok ataupun paham yang dianut oleh seseorang ditakar dari kontribusinya terhadap negara.

“Soal kenapa dia (Haji Misbach) diabadikan sebagai nama jalan di Medan, saya kira itu terjadi pada era 70, 80, 90-an. Saat itu si ‘merah-merah’ ini belum begitu kuat, orang-orang saat itu justru melihat apa kontribusinya bagi negara. Dan hal itu yang mendasarinya, saya kira,” ujar Guru Besar Antropologi Politik dan Konflik Universitas Negeri Medan (UNIMED) ini, di lokasi berbeda.

Lebih lanjut, ketika disinggung mengenai jejak geriliya Haji Misbach, sosok ini sangat berbahaya bagi pemerintahan Belanda semasa hidupnya. Namun, kerja-kerja ideologisnya itu-seperti bangunan medianya, tulisannya serta afiliasinya dengan sejumlah organisasi kiri kala itu, hanya bergemuruh di Pulau Jawa saja. Lantas, di tengah paham yang dipegang oleh Misbach yang saat ini menjadi hantu di Indonesia, namanya justru diabadikan sebagai nama jalan.

Kata Erond, menanggapi hal yang disinggung, pada akhir tahun 1960-an menjelang pergantian tahun, masyarakat di Indonesia mulai membangun sentimen terhadap kaum kolonial, dan diperkirakan faktor inilah yang menjadi latar belakang nama Haji Misbach diabadikan sebagai nama jalan di beberapa wilayah di Indonesia. 

Erond menyebutkan, jika peristiwa itu merupakan agenda bersih-bersih Indonesia dari segala hal yang berbau kolonialisme, termasuk mengganti seluruh nama jalan yang memakai istilah-istilah Belanda.

“Peristiwa itu adalah peng-Indonesia-an, seluruh Gedung ataupun nama jalan bukan hanya di Medan tapi diseluruh Indonesia istilah-istilah Belanda dihapuskan. Banyak saat itu istilah Belanda berganti. Saya menduga nama Misbah diabadikan pada momen ini,” ujar Erond.

Baca Juga: Ingin Benahi Medan Zoo, Rico Waas Minta Masukan dari Komisaris Taman Safari Indonesia Bogor

Namun di tengah wawancara yang berlangsung sekitar 2 jam lebih ini, Erond mengaku jika belum ada literatur sejarah yang menceritakan awal mula nama Haji Misbach menjadi nama jalan di kota metropolitan yang sudah berusia 435 tahun ini.

Perlu dicatat, artikel ini belum menjelaskan secara utuh sejarah nama Muhammad Misbah diabadikan sebagai nama jalan.

(cw7/nusantaraterkini.co)