Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Mengompeng, Berikut Cara Melatih Anak Agar Berhenti

Editor:  Akbar
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi anak mengompeng (istockphoto.com)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Mengompeng adalah kebiasaan yang umum dilakukan oleh anak-anak, terutama pada usia bayi hingga balita. 

Meskipun mengompeng bisa memberikan kenyamanan dan rasa aman, ada kalanya orangtua merasa perlu untuk melatih anak berhenti dari kebiasaan ini. 

Dalam artikel ini, nusantaraterkini.co akan membahas beberapa pertanyaan penting seputar mengompeng dan cara melatih anak berhenti mengompeng.

1. Bagaimana Cara Agar Anak Tidak Ngempeng Lagi

Melatih anak berhenti mengompeng membutuhkan pendekatan yang sabar dan konsisten. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil:

a. Perkenalan Bertahap

Alih-alih langsung melarang anak mengompeng, cobalah untuk mengurangi frekuensinya secara bertahap. Misalnya, batasi penggunaan empeng hanya di waktu tertentu, seperti saat tidur atau saat merasa tidak nyaman.

b. Berikan Pengalihan

Sediakan mainan atau objek lain yang bisa menjadi pengalihan saat anak merasa ingin mengompeng. Mainan yang lembut atau boneka bisa menjadi alternatif yang baik.

c. Berbicara dengan Anak

Jika anak sudah cukup besar untuk memahami, ajak mereka berbicara tentang mengapa mereka perlu berhenti mengompeng. 

Berikan penjelasan sederhana mengenai pentingnya mengembangkan kebiasaan lain yang lebih positif.

d. Buat Ritual Penghentian

Ciptakan ritual untuk merayakan saat anak berhenti mengompeng, seperti memberikan hadiah kecil atau merayakan dengan kegiatan menyenangkan. Ini dapat membuat proses berhenti menjadi lebih menarik bagi anak.

e. Konsistensi

Konsistensi adalah kunci. Pastikan semua pengasuh, termasuk orang tua dan pengasuh lainnya, mengikuti pendekatan yang sama agar anak tidak bingung.

Baca Juga: Wajah Anak Syahrini dan Reino Barack Masih Teka-teki, Warganet Puji Mirip Orang Jepang

2. Anak Ngempeng Sampai Usia Berapa

Banyak anak mulai mengompeng sejak lahir, dan kebiasaan ini biasanya berlanjut hingga usia 2-3 tahun. Namun, ada juga anak yang masih mengompeng hingga usia 4 tahun. 

Secara umum, kebiasaan mengompeng mulai berkurang saat anak memasuki masa prasekolah. Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, jadi penting untuk tidak membandingkan dengan anak lain.

3. Kapan Harus Berhenti Empeng

Meskipun tidak ada aturan baku tentang kapan harus berhenti mengompeng, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan. 

Umumnya, anak sebaiknya mulai mengurangi penggunaan empeng pada usia 2 tahun dan berhenti total sebelum usia 4 tahun. Hal ini penting untuk mencegah dampak negatif pada pertumbuhan gigi dan perkembangan bicara. 

Jika anak terus mengompeng hingga usia lebih dari 4 tahun, konsultasikan dengan dokter gigi atau ahli perkembangan anak untuk mendapatkan saran lebih lanjut.

4. Kapan Sebaiknya Menyapih Empeng

Proses menyapih empeng sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dengan mempertimbangkan kesiapan anak. Berikut adalah beberapa waktu yang tepat untuk memulai proses ini:

a. Saat Anak Menginjak Usia 2 Tahun

Pada usia ini, banyak anak sudah mulai bisa memahami perintah sederhana dan dapat diajak berdiskusi tentang kebiasaan mereka.

b. Ketika Anak Menunjukkan Ketertarikan untuk Berhenti

Beberapa anak mungkin menunjukkan ketertarikan untuk berhenti mengompeng, seperti saat mereka ingin lebih mandiri atau saat mereka melihat teman-teman mereka tidak lagi menggunakan empeng.

c. Menghindari Perubahan Besar

Hindari menyapih empeng saat ada perubahan besar dalam hidup anak, seperti pindah rumah atau kelahiran adik. 

Stres dari perubahan ini bisa membuat anak lebih membutuhkan empeng untuk merasa aman.

Melatih anak berhenti mengompeng adalah proses yang membutuhkan kesabaran dan pemahaman dari orang tua.

Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang konsisten, anak bisa berhasil meninggalkan kebiasaan ini dengan cara yang positif. 

Baca Juga: Cara Memilih Nama Anak yang Wajib Diketahui Calon Orangtua

Ingatlah bahwa setiap anak unik, jadi penting untuk menyesuaikan pendekatan kalian dengan kebutuhan dan kesiapan anak. 

Jika ada kekhawatiran, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan saran yang lebih spesifik.

(Akb/nusantaraterkini.co)