Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

Menelusuri Jejak Sejarah Istana Benua Raja, Warisan Kerajaan Islam di Aceh Tamiang

Mahasiswa PGSD Universitas Samudra menelusuri sejarah Istana Benua Raja di Aceh Tamiang, warisan Kerajaan Benua Tunu yang bernilai budaya.

Mahasiswa PGSD Universitas Samudra menelusuri sejarah Istana Benua Raja di Aceh Tamiang, warisan Kerajaan Benua Tunu yang bernilai budaya.(foto: istimewa)
Mahasiswa PGSD Universitas Samudra menelusuri sejarah Istana Benua Raja di Aceh Tamiang, warisan Kerajaan Benua Tunu yang bernilai budaya.(foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co,  ACEH – yang terletak di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan jejak perjalanan kerajaan dan kebudayaan masyarakat Tamiang. Berdiri sejak tahun 1928, istana ini menjadi saksi sejarah kepemimpinan sekaligus warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi generasi masa kini.

Penelusuran sejarah tersebut dilakukan oleh Kelompok 05 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Samudra, Angkatan 2025, Unit 05, melalui kegiatan observasi dan wawancara lapangan pada Kamis, 15 Oktober 2026, di lokasi .

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Media Pembelajaran di bawah bimbingan dosen pengampu, Arifah Prima Satrianingrum SPd MPd. Adapun mahasiswa yang terlibat ialah Arini Nahda (250410234), Dina Diana Simamora (250410164), Dwi Agistia (250410226), Irma Wardani (250410185), dan Nabila Zuhra (250410123).

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menggali informasi sejarah bersama dua narasumber, yakni Tengku Irwansyah dan Sulasmi. Tengku Irwansyah merupakan cucu dari anak pertama Tengku Raja Sulung, sedangkan Sulasmi merupakan istri Tengku Irwansyah.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, Istana Benua Raja merupakan bangunan bersejarah peninggalan yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kerajaan Tamiang, salah satu kerajaan Islam tua di Aceh setelah Kesultanan Perlak.

Istana tersebut dibangun pada tahun 1928 oleh Sultan Badelisah, yang dikenal dengan nama Tengku Raja Sulung dan merupakan raja terakhir Kerajaan Benua Tunu.

Pada masa lalu, istana ini tidak hanya berfungsi sebagai kediaman raja, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan kerajaan. Di tempat tersebut, berbagai urusan kerajaan dibahas melalui musyawarah adat, sekaligus menjadi lokasi untuk menerima tamu-tamu penting.

Salah satu daya tarik Istana Benua Raja adalah bentuk arsitekturnya yang memperlihatkan pengaruh kolonial Eropa atau Belanda. Fasad bangunannya memiliki karakter khas masa kolonial yang menjadikannya bagian menarik dari peninggalan sejarah di Kabupaten Aceh Tamiang.

Kompleks istana terdiri atas rumah raja dan pendopo yang terletak di samping kediaman raja. Kedua bangunan tersebut menggambarkan fungsi kompleks istana sebagai tempat tinggal sekaligus ruang untuk menjalankan kegiatan pemerintahan dan adat.

Keunikan arsitektur tersebut menjadi salah satu aspek penting yang dapat dipelajari dalam memahami perkembangan bangunan bersejarah dan kehidupan kerajaan di wilayah Tamiang.

Hingga kini, Istana Benua Raja telah ditetapkan sebagai situs sejarah budaya dan kondisinya masih relatif terawat. Namun, berdasarkan hasil wawancara lapangan, istana tersebut masih dikelola serta dihuni oleh ahli waris Kerajaan Tamiang, bukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Keberadaan ahli waris memiliki peran penting dalam menjaga bangunan sekaligus mempertahankan cerita sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.

Di sisi lain, pelestarian situs bersejarah seperti Istana Benua Raja membutuhkan perhatian berkelanjutan agar nilai sejarah, keaslian bangunan, dan informasi mengenai kerajaan tetap terjaga serta dapat dipelajari oleh masyarakat luas.

Bagi mahasiswa PGSD Universitas Samudra, kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran langsung untuk mengenal sejarah lokal melalui pengamatan bangunan dan wawancara dengan narasumber yang memiliki hubungan keluarga dengan pewaris kerajaan.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai asal-usul istana, tetapi juga memahami pentingnya peninggalan sejarah sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik.

Dalam konteks mata kuliah Media Pembelajaran, Istana Benua Raja dapat menjadi salah satu sumber belajar kontekstual untuk mengenalkan sejarah dan budaya daerah kepada siswa sekolah dasar. Pembelajaran berbasis lingkungan dan peninggalan sejarah diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kecintaan terhadap budaya lokal, serta kesadaran untuk menjaga warisan leluhur.

Istana Benua Raja bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian dari identitas sejarah dan kebudayaan masyarakat Aceh Tamiang. Di balik bangunannya tersimpan kisah tentang kepemimpinan, kehidupan sosial, musyawarah adat, dan perjalanan kerajaan pada masa lalu.

Oleh karena itu, pelestarian Istana Benua Raja menjadi hal penting agar warisan tersebut tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga tetap hidup melalui dokumentasi, penelitian, pendidikan, dan pengenalan kepada generasi muda.

Melalui observasi dan wawancara yang dilaksanakan pada Kamis, 15 Oktober 2026, Kelompok 05 mahasiswa PGSD Universitas Samudra turut mengambil bagian dalam mendokumentasikan dan mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat.

Bagi para mahasiswa ini, menelusuri sejarah Istana Benua Raja berarti merawat ingatan tentang masa lalu, memperkuat identitas budaya daerah, dan mewariskan pengetahuan sejarah kepada generasi mendatang.

(Akb/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru