Ketegangan Meningkat: Houthi Isyaratkan Perang Terbuka Lawan Aliansi AS-Israel
Houthi isyaratkan perang terbuka dan klaim serangan rudal ke Israel sebagai hak sah melawan agresi AS-Israel
Nusantaraterkini.co, SANAA - Kelompok Houthi Yaman pada Sabtu (28/3) mengisyaratkan kesiapan untuk melancarkan aksi militer lanjutan, menggambarkan serangan militer mereka baru-baru ini terhadap Israel sebagai hak yang sah untuk mengonfrontasi apa yang mereka sebut sebagai agresi brutal Amerika-Israel terhadap Iran dan kawasan yang lebih luas.
Dalam sebuah pernyataan, otoritas urusan luar negeri kelompok tersebut mengatakan, intervensi mereka merupakan bagian dari strategi regional yang lebih luas yang terkait dengan Iran, Palestina, Irak dan Lebanon.
Kelompok itu menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel mendorong rencana Zionis yang mengancam kawasan dan bertujuan membentuk apa yang disebut sebagai Israel Raya dan Timur Tengah baru, serta menyerukan agar negara-negara Islam bersatu.
Houthi juga menegaskan, operasi militernya hanya menyasar musuh yaitu Israel dan Amerika, serta menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi dengan negara-negara Arab dan Islam guna mencegah kesalahpahaman.
Sementara itu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengecam pengumuman Houthi tersebut dan memperingatkan bahwa tindakan semacam itu berisiko menyeret negara tersebut ke dalam konfrontasi regional yang lebih luas.
Sebelumnya pada Sabtu, angkatan bersenjata Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal balistik ke apa yang mereka gambarkan sebagai situs militer sensitif Israel di wilayah selatan Israel, yang merupakan serangan pertama kelompok tersebut sejak Israel dan AS memulai serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari.
Salah Ali Salah, peneliti dari Pusat Kajian Strategis Sanaa, menggambarkan keterlibatan kelompok tersebut sebagai pertaruhan berisiko tinggi.
"Setiap langkah yang mengancam pelayaran di Laut Merah dapat memicu intervensi langsung Amerika," katanya.
Houthi, yang telah menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara sejak akhir 2014, sebelumnya mendukung Iran dalam konflik selama 12 hari antara AS, Israel, dan Iran tahun lalu.
Sumber: Xinhua
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSDPD Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah melalui Legislasi, Pengawasan dan Dialog Publik
hendra·11 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPerkelahian Berujung Maut, Cemburu dan Alkohol Picu Penembakan Pratu Ferischal
Rozie Winata·28 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPratu Bintang Menangis di Persidangan, Baru Sadar Terdakwa Adalah Seniornya
Rozie Winata·47 menit yang lalu -
NEWSKapolri Luncurkan I-GHAS 24/7, Perkuat Pengawasan Buronan Internasional di Perbatasan
hendra·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOHercules Rosario Sebut Penyadapan terhadap Presiden RI Masuk Tindakan Makar dan Pengkhianat Negara
1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALTerdakwa Pengeroyokan Dituntut 2 Tahun, Ketua SPSI Tuding Jaksa Disuap
hendra·1 jam yang lalu -
NASIONALIsu Pengerahan 20 Ribu Prajurit ke Jakarta, Panglima TNI Ungkap 3 Level Siaga, Personel dan Alutsista Disiapkan
hendra·1 jam yang lalu -
NASIONALHercules: Penyadapan terhadap Presiden Adalah Tindakan Makar dan Pengkhianatan Negara
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALBarang Bukti 72 Perkara Dimusnahkan Kejari Binjai, Sabu hingga Ganja Ikut Dibakar
hendra·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALKeluarga Korban Kekerasan TNI Tuntut Revisi UU Peradilan Militer
Rozie Winata·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan