Keluhan Pejabat Bappenas Masalah Tarif Pesawat Domestik yang Semakin Mahal
Direktur Transportasi Kedeputian Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, mengeluhkan tarif tiket pesawat penerbangan
nusantaraterkini.co, JAKARTA - Direktur Transportasi Kedeputian Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, mengeluhkan tarif tiket pesawat penerbangan domestik yang masih mahal, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Tarif penerbangan domestik yang mahal tersebut menjadi salah satu isu strategis di sektor transportasi yang disoroti Bappenas, imbas belum optimalnya konektivitas backbone antar pulau.
Beberapa isu tersebut yakni lebih dari 50 persen bandara di Indonesia belum memenuhi standar teknis dan layanan. Kemudian, on time performance penerbangan domestik jauh di bawah negara lain di dunia.
Isu lainnya tarif penerbangan domestik, yang menurut Virgi, sangat tidak masuk akal. Dia pun menjelaskan pengalamannya sendiri ketika memesan tiket penerbangan ke Singapura lebih murah daripada ke Makassar.
"Bisa dibilang saya ini termasuk korban, mau ke Singapura lebih murah daripada mau ke Makassar. Sama anak-anak kalau mau jalan-jalan, jadinya ya sudah mendingan keluar gitu daripada misalnya ke Bali," jelasnya saat Forum Diskusi Sektor Transportasi MTI, Jumat (17/5/24).
Virgi menerka-nerka alasan dari masih mahalnya tiket penerbangan domestik yakni tidak hanya soal infrastruktur dan rendahnya akses ke wilayah timur, namun juga tata kelola yang harus diperbaiki.
"Saya enggak tahu, itu tata kelola lagi. Mungkin juga ada pertanyaan tentang fisiknya, tentang infrastrukturnya, tapi tata kelola buat saya," katanya.
Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Bappenas pun merekomendasikan peninjauan kembali pengaturan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) tiket pesawat.
Selain soal tarif pesawat domestik yang mahal, Bappenas juga menyoroti 90 persen trafik penerbangan masih terpusat di 4 bandara utama (Soetta, Ngurah Rai, Juanda, dan Kualanamu).
Kemudian, kinerja bandara hub dan feeder belum memenuhi standar, serta integrasi dengan kawasan belum optimal. Tarif yang mahal juga disebabkan oleh terbatasnya konektivitas dan layanan penerbangan di wilayah timur.
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWS VIDEOMartin Hutabarat: Perubahan UUD Penting Dipahami untuk Menentukan Arah Bernegara
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
-
KRIMINALViral Video Dugaan Bullying Siswi SMPN 12 Pematangsiantar, Polisi Langsung Turun Tangan
hendra·2 jam yang lalu -
BADMINTONDua Ganda Putra Indonesia Tembus Semifinal Asian Games 2026, Leo/Daniel Tantang Pasangan Nomor 1 Dunia
hendra·3 jam yang lalu -
INTERNASIONALTrump Tolak Proposal Iran, Teheran Masih Tunggu Jawaban Resmi soal Pembukaan Selat Hormuz
hendra·3 jam yang lalu -
-
EKONOMIKemiskinan Argentina Naik Jadi 32,3 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak
hendra·4 jam yang lalu -
PERISTIWAMarkas OPM Egianus Kogoya di Nduga Diserang dari Udara? Ini Kata TNI
hendra·5 jam yang lalu -
SUMSELHerman Deru Beberkan Strategi Program Sultan Muda Tekan Angka Pengangguran di Sumsel
hendra·5 jam yang lalu -
INTERNASIONALSurvei Ungkap 52 Persen Warga Filipina Merasa Tak Berdaya Hadapi Korupsi
Rozie Winata·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan