Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Ambruk, Bamsoet Sindir Bursa: Reformasi Setengah Hati Tak Cukup, Prabowo Diminta Bongkar Akar Masalah

Guncangan hebat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu trading halt dua hari berturut-turut menjadi alarm keras bagi pasar modal Indonesia.

Bambang Soesatyo (foto:istimewa)
Bambang Soesatyo (foto:istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Guncangan hebat Indeks Harga Saham Gabungan () yang memicu trading halt dua hari berturut-turut menjadi alarm keras bagi . Di tengah kepanikan dan runtuhnya kepercayaan pasar.

menegaskan bahwa krisis ini bukan sekadar fluktuasi sesaat, melainkan akibat pembenahan struktural yang selama ini setengah hati.

Bamsoet menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan percepatan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pengetatan aturan free float, serta perluasan peran institusional domestik. Namun ia menegaskan, kebijakan tersebut harus dijalankan secara radikal, bukan kosmetik.

“Trading halt dua kali dalam waktu singkat adalah sinyal kegagalan tata kelola. Pasar kita rapuh karena selama ini dibangun di atas likuiditas semu,” ujar Bamsoet, Sabtu (31/1/26).

Tekanan pasar dipicu keputusan MSCI yang membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares saham Indonesia hingga Februari 2026. Langkah itu membuka risiko serius: penurunan bobot Indonesia di Indeks MSCI Emerging Markets, bahkan potensi degradasi ke pasar frontier jika pembenahan tak dilakukan cepat dan nyata.

Dampaknya langsung terasa. anjlok hingga menembus ambang trading halt 8% pada 28–29 Januari, sebelum akhirnya menyeret pengunduran diri Direktur Utama BEI Iman Rachman. Bagi Bamsoet, ini bukan sekadar tanggung jawab personal, melainkan cerminan masalah sistemik yang dibiarkan terlalu lama.

Ia menilai kebijakan Presiden Prabowo menaikkan free float minimum dari 7,5% menjadi 15% sebagai langkah korektif yang terlambat namun krusial. 

“Kapitalisasi besar tidak berarti apa-apa jika saham publik minim. Saat sentimen global negatif, pasar langsung runtuh,” katanya.

Bamsoet juga menyoroti rencana menaikkan porsi investasi dana pensiun dan asuransi hingga 20%. Menurutnya, tanpa bantalan investor domestik jangka panjang, IHSG akan terus menjadi “pasar spekulatif” yang mudah diguncang modal asing.

“Pasar modal adalah cermin kepercayaan. Kalau reformasi hanya setengah jalan, krisis seperti ini akan berulang,” pungkasnya. 

(cw1/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru