Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IAGI: Penentuan Penyebab Bencana Banjir Harus Ilmiah sebelum Memvonis Pihak Tertentu

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ketua Umum IAGI STJ Budi Santoso mengatakan, secara ilmiah tidak tepat jika penyebab banjir langsung diarahkan kepada pihak tertentu tanpa kajian menyeluruh.(foto:istimewa)

Nusantaraterkini.coJAKARTA - Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menilai penentuan penyebab banjir di sejumlah wilayah di Indonesia harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang transparan sebelum publik maupun pemerintah menyimpulkan atau memvonis pihak tertentu sebagai penyebab. Ketua Umum IAGI STJ Budi Santoso mengatakan, secara ilmiah tidak tepat jika penyebab banjir langsung diarahkan kepada pihak tertentu tanpa kajian menyeluruh. 

“Pendekatannya memang multidisiplin. Faktor geologis, hidrologis, iklim, hingga kegiatan manusia harus dirunut satu per satu. Kita tidak bicara tentang siapa, tetapi melihat permasalahan secara objektif agar langkah mitigatif dan korektif yang diambil tepat sasaran. Diagnosisnya harus tepat agar obat yang diberikan sesuai,” katanya, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga : Soroti Akar Banjir, DPR Desak Benahi Tata Ruang dan Pengelolaan Lingkungan

Budi menambahkan, kondisi geologis suatu wilayah memiliki daya dukung yang berbeda-beda sehingga perlu menjadi referensi utama dalam menilai kerentanan dan risiko bencana.   

Baca Juga : DPR Dukung Gunung Slamet Jadi Taman Nasional, Alih Fungsi Hutan Dinilai Picu Banjir dan Longsor

“Kita perlu melihat kasus-kasusnya. Ada area di mana bagian atasnya cukup terjaga, kegiatan manusia juga tidak banyak, pohon-pohon masih bagus, tetapi tetap terjadi banjir bandang. Hal seperti itu perlu dilihat secara objektif,” ujarnya.

Ia menyebutkan, teknologi saat ini memungkinkan analisis lebih terukur, termasuk memanfaatkan citra satelit untuk melihat kondisi wilayah dalam rentang waktu tertentu sebelum kejadian.  

Baca Juga : BNPB: Tenda Pengungsian Sudah Ada Sejak Pekan Lalu

Menurutnya, kajian tersebut tidak hanya untuk menjelaskan kejadian, tetapi juga untuk memperkuat pencegahan. 

Baca Juga : Hadirkan Pembicara dari Irak dan Yogya, HMJ KS FISIP UMSU Gelar Seminar Kebencanaan

"Ini bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, tetapi lebih pada bagaimana kita mengantisipasi agar ke depan tidak terjadi lagi. Kalau pun terjadi, kita sudah punya langkah-langkah antisipatif atau mitigatif,” terangnya.

IAGI menilai, kesimpulan penyebab bencana yang tidak ditopang proses ilmiah berisiko menghasilkan langkah korektif yang keliru dan tidak menyentuh akar masalah. 

“Yang paling tidak kita inginkan adalah langkah korektif yang tidak sesuai dengan akar masalahnya. Itu akan menyesatkan. Analogi sederhananya, obat yang diberikan tidak sesuai dengan hasil diagnosis,” tegas Budi.

Dalam konteks penguatan kebijakan, IAGI mendorong agar analisis berbasis geosains dijadikan dasar utama dalam kebencanaan, tata ruang, dan pemanfaatan wilayah.

“Kami mendorong adanya regulasi setingkat undang-undang, yaitu undang-undang geologi atau undang-undang kebumian, agar muatannya cukup kuat dan aturan di bawahnya harus mengacu pada itu,” tutur Budi.

Budi menyebut hasil diskusi dan forum geosains yang digelar IAGI pada 26 Januari lalu juga akan ditindaklanjuti dengan policy brief berisi rekomendasi kepada para pemangku kepentingan.

“Intinya, analisis berbasis geosains terhadap kondisi riil di lapangan, khususnya aspek geologi, harus menjadi dasar utama dalam melihat kebencanaan, tata ruang, dan pemanfaatan wilayah,” pungkasnya. 

(Cw1/Nusantaraterkini.co)