Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Gejolak Iran–AS–Israel Tekan Rupiah, Ancaman Tembus Rp20.000 per Dolar AS Kian Terbuka

Ketegangan Iran-AS-Israel berpotensi tekan rupiah hingga Rp20.000 per dolar AS. Risiko capital outflow dan lonjakan minyak jadi pemicu utama.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai memunculkan efek nyata terhadap pasar keuangan global. Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi terdampak, terutama dari sisi .

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, dalam keterangannya, Selasa (24/3/2026) menilai tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam jika konflik terus bereskalasi. Ia bahkan memperkirakan nilai tukar berpeluang melemah hingga mendekati Rp20.000 per dolar AS.

Menurut Anthony, skenario tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, depresiasi rupiah di kisaran 15–20 persen pernah berulang kali terjadi dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di sekitar Rp17.000 per dolar AS, pelemahan 20 persen dapat mendorong kurs ke level Rp20.400 per dolar AS.

Meski Indonesia memiliki cadangan devisa yang tergolong besar, lebih dari US$150 miliar, Anthony menilai hal itu belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi. Pasalnya, sebagian cadangan tersebut bersumber dari utang luar negeri pemerintah dan otoritas moneter seperti .

Selama ini, utang luar negeri dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar valuta asing. Namun, ketergantungan terhadap aliran dana eksternal membuat rupiah rentan terhadap gejolak global.

Sejumlah catatan historis memperkuat pandangan tersebut. Pada periode 2014–2015, cadangan devisa menyusut dan hingga sekitar 20 persen. Kondisi serupa kembali terjadi pada 2018 dan awal pandemi 2020, ketika tekanan global memicu pelemahan signifikan.

Memasuki awal 2026, tekanan kembali terlihat. Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa tercatat menurun sekitar US$4,6 miliar, sementara pemerintah telah menarik utang luar negeri sebesar US$7,1 miliar dalam berbagai mata uang.

Konflik di Timur Tengah diperkirakan akan memperburuk situasi melalui beberapa jalur utama.

Pertama, lonjakan harga energi. Ketegangan kawasan dapat mengganggu pasokan minyak dunia, sehingga meningkatkan beban impor bagi Indonesia.

Kedua, gangguan rantai pasok global. Konflik berkepanjangan berpotensi menghambat distribusi barang dan meningkatkan biaya logistik.

Ketiga, arus keluar modal (capital outflow). Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor global cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti dolar AS.

Anthony juga mengingatkan, jika kondisi terus memburuk, pelemahan rupiah bisa melampaui 20 persen dalam waktu relatif singkat, yakni 3 hingga 6 bulan. Situasi ini mengingatkan pada krisis finansial Asia 1997, ketika rupiah terdepresiasi tajam dan Indonesia harus meminta bantuan International Monetary Fund.

Ia menegaskan bahwa stabilitas rupiah sangat bergantung pada keberlanjutan arus dana asing. Selama aliran modal masuk tetap terjaga, nilai tukar relatif stabil. Namun jika terjadi penarikan dana besar-besaran, tekanan terhadap rupiah akan sulit dihindari.

Saat ini, berdasarkan data pasar, rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Level ini dinilai cukup rentan terhadap tekanan eksternal di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait