Nusantaraterkini.co,JAKARTA-Sentimen dovish yang semakin menguat dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, telah memicu lonjakan harga yang impresif pada pasar logam mulia global. Tercatat di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, harga emas dunia berhasil melonjak lebih dari satu persen dalam perdagangan terbaru.
Pendorong utama kenaikan substansial ini adalah spekulasi investor yang mencapai tingkat keyakinan tinggi bahwa Federal Reserve akan segera mengumumkan pemangkasan suku bunga The Fed sebelum tutup tahun, tepatnya pada bulan Desember.
Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini 24 November 2025: Turun Tipis ke Rp2.340.000 per Gram
Optimisme pasar diperkuat setelah John Williams, Presiden Fed New York, secara terbuka mengisyaratkan bahwa penurunan biaya pinjaman AS dapat diimplementasikan "dalam waktu dekat" tanpa mengganggu upaya berkelanjutan The Fed untuk mencapai target inflasi jangka panjang.
Menurut data teranyar dari FedWatch Tool CME Group, peluang pasar untuk menyaksikan pemangkasan suku bunga pada Desember kini telah mencapai angka krusial, yaitu 79 persen, menciptakan lingkungan yang sangat mendukung daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Di tengah ekspektasi perubahan kebijakan moneter tersebut, fokus pasar kini beralih pada serangkaian data ekonomi vital Amerika Serikat yang sempat tertunda rilisnya. Data-data penting tersebut mencakup klaim pengangguran mingguan, hasil penjualan ritel nasional, serta Indeks Harga Produsen (PPI).
Analisis dari mayoritas ekonom dan analis pasar mengindikasikan bahwa data yang akan dirilis cenderung menunjukkan tanda-tanda kelemahan ekonomi, disertai dengan tingkat inflasi yang diperkirakan tidak akan terlalu tinggi. Kondisi makroekonomi ini, yang menggabungkan potensi penurunan suku bunga dengan perlambatan pertumbuhan, secara historis menciptakan pijakan yang sangat positif untuk harga emas di pasar komoditas.
Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik global juga terus menyokong permintaan beli, terutama mengingat kembali dimulainya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Ukraina terkait konflik mereka dengan Rusia. Meskipun demikian, Analis dari StoneX memberikan proyeksi bahwa pergerakan harga komoditas ini kemungkinan akan terkonsentrasi dalam batas rentang tertentu, diperkirakan stabil antara $4.000 hingga $4.100 per ounce.
Baca Juga : Harga Emas Antam Menguat, Naik Rp8.000 ke Level Rp2.286.000 Per Gram
Pada penutupan perdagangan Senin, 24 November 2025, waktu setempat, atau Selasa dini hari WIB, harga emas di pasar spot berhasil mencatatkan lonjakan tajam sebesar 1,2 persen, mencapai level penutupan di $4.111,86 per ounce. Sejalan dengan itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat juga mengakhiri sesi dengan penguatan 0,4 persen, menetap pada harga $4.094,2 per ounce.
Momentum kenaikan ini merambat ke seluruh sektor logam mulia. Perak mengalami kenaikan harga 1,7 persen, ditutup pada $50,84. Platinum mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 2,3 persen, mencapai $1.545,91, sementara paladium juga menguat 1,7 persen, menutup perdagangan pada $1.398,21 per ounce.
(*/Nusantaraterkini.co)
- harga emas melonjak akibat spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed
- harga emas
- The Fed
- suku bunga AS
- pasar komoditas
- emas dunia
- FedWatch CME
- John Williams
- harga emas
- The Fed
- suku bunga AS
- pasar komoditas
- emas dunia
- FedWatch CME
- John Williams
- logam mulia
- ekonomi AS
- inflasi AS
- pasar global mulia
- ekonomi AS
- inflasi AS
- pasar global
