nusantaraterkini.co, JAKARTA - Ekonom CORE Indonesia, Etika Karyani mengatakan, penolakan ramai-ramai terhadap program Tapera akibat sosialisasi program tersebut belum dilakukan dengan baik.
Hal ini disampaikan terkait maraknya penolakan program Tapera dari sejumlah elemen masyarakat.
"Kementerian Keuangan bersama BP Tapera harus menjelaskan secara aktif kepada masyarakat, terutama pengusaha dan asosiasi pekerja. Mereka harus dilibatkan, karena mereka yang kena aturan ini," kata Etika, Jumat (14/6/2024).
Baca Juga : DPR Sahkan RUU KUHAP, Formappi: Apakah Usulan itu Hasil dari Publik?
Akibat tidak adanya sosialisasi ini, lanjut Etika, menyebababkan program Tapera menjadi polemik dan kontroversi di masyarakat Indonesia.
"Ini pengelolaan dananya bagaimana? Karena OJK juga meminta BP Tapera untuk menindaklanjuti temuan BPK yang menyebut 124.960 pensiunan belum menerima pengembalian dana total sebesar Rp 567,5 miliar pada 2021. Jadi dananya tidak bisa diambil, rumahnya tidak ada, lokasinya juga tidak jelas dimana," katanya.
Etika mengatakan, pasca pengesahan UU Cipta Kerja, kenaikan upah buruh sangat rendah, bahkan tak bisa mengimbangi inflasi dengan daya beli dan kesejahteraan yang semakin menurun, ditambah kondisi global yang tidak menentu.
Baca Juga : Bertentangan dengan Butir Pancasila, Pemerintahan Prabowo Didesak Tegas Batalkan Tunjangan Anggota DPR
"Pak Jokowi harus melihat kondisi ini. Kita berharap agar program Tapera ini tidak menjadi ladang korupsi baru seperti yang terjadi pada kasus Asabri, Jiwasraya dan Taspen atau digunakan untuk pembiayaan lain," tegas Etika Karyani.
(cw1/nusantaraterkini.co)
