DPR Desak Bongkar Jaringan Tambang Ilegal di Balik Kekerasan Terhadap Nenek Saudah
DPR desak bongkar mafia tambang ilegal di Pasaman penyulut kekerasan Nenek Saudah. Negara tak boleh kalah!
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Dugaan kekerasan terhadap Nenek Saudah di kawasan tambang ilegal Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kini berubah menjadi isu serius pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan ujian nyata bagi keberpihakan negara terhadap rakyat kecil.
Anggota Komisi XIII DPR Mafirion menegaskan aparat penegak hukum tidak boleh berhenti pada satu pelaku, karena kekerasan di kawasan tambang mustahil terjadi tanpa keterlibatan jaringan yang lebih besar.
“Ini bukan kriminal biasa. Ini adalah kejahatan struktural yang beroperasi di bawah bayang-bayang tambang ilegal. Kalau polisi hanya mengorbankan satu orang, itu artinya negara sedang menutup mata terhadap mafia tambang,” tegasnya, Senin (2/2026).
Menurutnya, fakta bahwa tanah yang disengketakan adalah milik Nenek Saudah menunjukkan adanya perampasan hak warga oleh kekuatan ekonomi ilegal yang bekerja dengan cara intimidatif dan brutal.
“Ini bukan konflik lahan biasa. Ini adalah perampokan hak milik rakyat dengan kekerasan. Di republik ini, praktik semacam itu seharusnya sudah lama mati. Tapi nyatanya masih hidup di daerah,” ujarnya.
Mafirion bahkan menyamakan praktik intimidasi yang dilakukan kelompok tambang ilegal terhadap warga dengan model kolonialisme modern, di mana masyarakat lokal dipaksa tunduk pada kekuasaan modal.
“Kalau rakyat diusir dan dipukuli demi tambang ilegal, lalu negara diam, maka kolonialisme belum benar-benar berakhir. Yang berubah hanya siapa yang menguasai senjata dan uang,” katanya.
Ia mendesak Kementerian HAM, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan LPSK turun langsung dan tidak membiarkan kasus ini berakhir sebagai laporan tanpa taji.
Mafirion secara khusus meminta LPSK memberikan perlindungan penuh kepada Nenek Saudah, termasuk pengamanan fisik, pemulihan trauma, dan jaminan tempat tinggal selama proses hukum berlangsung.
“Korban tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi jaringan tambang ilegal. Negara wajib melindungi, bukan sekadar mencatat penderitaan,” tegasnya.
Ia menilai kasus Nenek Saudah hanyalah puncak gunung es dari praktik tambang ilegal di Pasaman yang selama ini dibiarkan tumbuh tanpa kendali.
“Kalau pemerintah serius soal HAM dan negara hukum, semua tambang ilegal di Pasaman harus disapu bersih. Kalau tidak, maka kekerasan terhadap warga akan terus berulang,” tandas legislator dapil Riau ini.
Mafirion menutup dengan peringatan keras bahwa kegagalan mengusut kasus ini hingga ke aktor intelektualnya akan menjadi bukti runtuhnya keadilan di hadapan kekuatan modal.
“Kasus ini harus dibawa ke pengadilan sampai tuntas. Tidak boleh ada kompromi dengan kejahatan. Jika hukum tunduk pada tambang ilegal, maka yang hancur bukan hanya Nenek Saudah tapi wibawa negara,” pungkasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
POLITIKPengamat: Prabowo dan Jokowi Bisa Berhadapan di Pilpres Mendatang Jika Loyalis Dicopot
Rozie Winata·28 menit yang lalu -
-
SUMSELKinerja Penyerapan Tinggi, Menteri PKP Setujui Tambahan 3.000 Unit Rumah Subsidi untuk Sumsel
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
PERISTIWATragis! Pria 64 Tahun Tewas Tertabrak Kereta di Kertapati Palembang
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIReshuffle Kabinet Jadi Bayang-Bayang IHSG, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini
hendra·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALPutra Mahkota Arab Saudi: Dunia Hadapi Krisis Energi di Tengah Ketidakpastian Global
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SEPAKBOLAOle Romeny Ungkap Duel Kontra Bangladesh Jadi Laga Paling Emosional Sepanjang Kariernya
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
-
KESEHATANRSU Haji Medan Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi: Pasien BPJS dan Umum Dilayani Setara
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALSarmuji Jadi Menteri Perindustrian, Eva Monalisa: Program Strategis Harus Dikebut, Jangan Terputus
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan