Nestapa Nenek Saudah: Menuntut Pemulihan Harkat di Tengah Kepungan Tambang Ilegal Pasaman
Nestapa Nenek Saudah korban penganiayaan tambang ilegal Pasaman jadi sorotan DPR, menuntut keadilan dan pemulihan harkat.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA-Luka jahitan di dahi Nenek Saudah (68) menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah prinsip dalam menjaga tanah ulayat dari jarahan tambang emas ilegal. Di usianya yang senja, perempuan asal Lubuak Aro, Pasaman, ini harus menempuh perjalanan jauh ke Jakarta untuk menagih janji keadilan yang terasa jauh di kampung halamannya sendiri, Senin (2/2/2026).
Tragedi yang menimpanya pada pembuka tahun 2026 bukan sekadar luka fisik, melainkan serangan terhadap martabatnya sebagai pemilik lahan yang dikucilkan hanya karena berani menegur aktivitas ekskavator di Sungai Batang Sibinail.
โ
Di hadapan para anggota parlemen, Saudah tidak hanya meminta para penganiayanya dihukum berat, tetapi juga memohon agar nama baiknya dibersihkan dari stigma sosial yang muncul pasca-kejadian. Sambil menahan tangis, ia menyampaikan harapan mendalam bagi kaumnya dan pemulihan status sosialnya di tanah kelahiran.
"Saya ingin keadilan betul-betul sama anak-anak suku saya. Mudah-mudahan diberikan keadilan yang sebaik-baiknya, dan saya minta dipulihkan nama baik saya di kampung saya sendiri. Terima kasih sama kalian semua. Mudah-mudahan Allah yang membalas kebaikan kalian," ungkap Saudah dengan suara bergetar di Kompleks Parlemen, Senin (2/2/2026).
โMerespons jeritan hati tersebut, Komisi XIII DPR RI menilai kasus ini merupakan manifestasi dari carut-marutnya penegakan hukum di sektor pertambangan yang berdampak langsung pada hak asasi manusia. Anggota Komisi XIII, Arisal Aziz, mengidentifikasi adanya tumpang tindih persoalan yang memerlukan intervensi lintas komisi dan lembaga. Ia menegaskan bahwa kekerasan brutal yang dialami korban adalah buntut dari pembiaran aktivitas tambang ilegal yang telah mengakar.
"Kasusnya ada tiga. Pertama, pelanggaran HAM. Kedua, pidana kekerasan. Ketiga, terkait tambang ilegal yang sudah berjalan sekian tahun,” jelas Arisal saat memaparkan urgensi penuntasan perkara ini, seperti dilansir RMOL.
โ
Dukungan politik pun kini mengalir untuk memastikan Nenek Saudah tidak berjuang sendirian melawan mafia tambang. Selain memantau kesehatan korban yang sempat kritis akibat dipukuli hingga pingsan, parlemen berjanji akan menyisir keterlibatan pelaku lain yang belum tersentuh hukum.
Pihak DPR berkomitmen untuk segera mempercepat proses pidana sekaligus menutup celah pelanggaran lingkungan yang menjadi akar konflik.
"Kesehatan Ibu Saudah juga kami perhatikan. Kekerasannya hampir menghilangkan nyawanya,” tambah Arisal, menggarisbawahi bahwa pemulihan fisik korban harus berjalan beriringan dengan kepastian hukum yang transparan.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALDitawar Rp300 Ribu untuk Seks, Pria di Labura Bunuh Pasangan Sesama Jenis: Satu Pelaku di Bawah Umur
hendra·19 menit yang lalu -
NEWSTak Banyak yang Tahu, Kapolri Suyudi Ario Seto Pernah Pamer Aksi Debus Bengkokkan Golok
hendra·1 jam yang lalu -
EKONOMIHarga Emas Turun Tipis ke Rp2.576.000 Per Gram, Perak Naik Menjadi Rp40.750
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIDPR Desak BI Perketat Keamanan QRIS dan Lindungi 65 Juta Pengguna dari Kejahatan Siber
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
POLITIKPengamat: Prabowo dan Jokowi Bisa Berhadapan di Pilpres Mendatang Jika Loyalis Dicopot
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
-
SUMSELKinerja Penyerapan Tinggi, Menteri PKP Setujui Tambahan 3.000 Unit Rumah Subsidi untuk Sumsel
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
PERISTIWATragis! Pria 64 Tahun Tewas Tertabrak Kereta di Kertapati Palembang
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
EKONOMIReshuffle Kabinet Jadi Bayang-Bayang IHSG, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini
hendra·4 jam yang lalu -
INTERNASIONALPutra Mahkota Arab Saudi: Dunia Hadapi Krisis Energi di Tengah Ketidakpastian Global
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan