nusantaraterkini.co, SEMARANG - Polrestabes Semarang mengungkap aksi tawuran gangster yang terjadi di wilayah tersebut.
Dalam pengungkapan itu, terkuak kalau aksi tawuran ini didanai oleh bandar situs judi online. Para gangster diberi Rp 5 hingga 8 juta per bulan untuk melakukan tawuran.
"Aksi tawuran ini didanai oleh bandar judi online. Jadi gangster ini menerima kurang lebih 5 sampai 8 juta perbulan. Aksi tawuran ini dilakukan kira-kira untuk mengalihkan pengamanan Pilkada. Selain itu, mereka juga diminta kompensasi untuk memposting judi online di akun akun gangster di Kota Semarang," kata Irwan, Kamis (24/10/2024).
Baca Juga : Balita 2 Tahun Tewas Dianiaya Pacar Ibu
Dari uang yang diterima tiap bulan dari bandar judi online itu, lanjut Irwan, gangster itu menggunakannya untuk membeli peralatan tawuran, minuman keras, beli atribut, rekreasi hingga menyewa tempat atau markas.
Selain itu, kata Irwan, uang tersebut juga digunakan untuk pengobatan jika ada anggota gangster yang terluka.
Irwan mengatakan, aliran dana ini terungkap setelah pihaknya menemukan banyak kejanggalan terhadap maraknya aksi tawuran, hingga pengerahan anak SMK di aksi demo mahasiswa beberapa waktu lalu.
Baca Juga : Konvoi Dijalanan, 278 Pemuda Ditangkap
"Peristiwa-peristiwa itu sudah dicermati, sudah diskema, sudah mapping dan semua dilakukan, kami duga untuk mengalihkan fokus pengamanan untuk Pilkada," ujar Irwan.
Ia menjelaskan, dalam pengembangan kasus tawuran, ditemukan tiga orang admin medsos dari gangster yang terafiliasi dengan judi online. Mereka adalah Muhammas Iqbal Samudra (22) warga Bandarharjo Semarang, Muhammad Alfin Harir (19) warga Bangetayu Wetan, dan Sandy Wisnu Agusta (23) warga Pringgodani Semarang.
"Ditemukan adanya pembiayaan beberapa gangster oleh situs judi online. Situs-situs bekerja sama dengan tersangka Iqbal. Melalui Iqbal mengalir pembiayaan ke beberapa gangster. Antara lain gangster Alstar, Young_street_404, Teamdadakan, dan Teammasok," jelas dia.
"Kemudian tersangka Alfin ini admin akun gangster Teammasok, Sandy admin Teamdadakan, Iqbal admin Alstar dan Youngs_street_404," imbuh Irwan.
Tak hanya aksi tawuran, pengerahan remaja atau pelajar SMK juga dilakukan dalam unjuk rasa mahasiswa yang berujung ricuh beberapa waktu yang lalu.
"Siswa yang ikut itu ternyata mayoritas datang dari luar Kota Semarang. Antara lain ada tujuh siswa SMK dari Demak, tujuh dari Grobogan, ada dari Ungaran, dan lainnya. Tidak mungkin serentak bersama lakukan kegiatan jika tidak terstruktur," ungkap Irwan.
Irwan menduga ada pihak-pihak yang ingin merusak keamanan dan kondusifitas jelang Pilkada di Kota Semarang. Ia pun meminta mereka untuk berhenti melakukan pengerahan dan memanfaatkan anak-anak.
"Kami minta kepada pihak yang memiliki kepentingan dan pergerakan ini agar tidak meneruskan. Apalagi pola yang dilakukan sudah mengarah ke upaya pelanggaran hukum dan mengganggu kondusifitas," tegas Irwan.
(Dra/nusantaraterkini.co)
