Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Dampak Perang di Selat Hormuz Tekan Omset Pedagang Grosiran

Sejumlah pedagang grosiran barang tahan lama mulai mengeluhkan minimnya pasokan untuk sejumlah produk kebutuhan rumah tangga

Bagikan:
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Sejumlah grosiran barang tahan lama mulai mengeluhkan minimnya pasokan untuk sejumlah produk kebutuhan rumah tangga, khususnya produk yang dikemas dalam plastik.

Pengamat Ekonomi menyatakan mayoritas pedagang kebutuhan harian tahan lama mengalami penurunan omset penjualan. “Di mana penurunan omset ini bisa mencapai 50 persen dibandingkan dengan hari normal,” katanya, Senin (11/5/2026).

Ia mengatakan penyebab utama penurunan omset lebih dipicu oleh minimnya pasokan barang yang biasanya dikirim oleh produsen. Beberapa produk yang saat ini dikeluhkan pasokannya oleh diantaranya adalah sabun cair, detergen cair, pewangi pakaian, atau produk kebutuhan harian mandi maupun mencuci. “Ditambah lagi terdapat penurunan jumlah pasokan untuk produk minuman kemasan, seperti kopi sachet, sari buah, air minum dalam kemasan plastik, kopi dalam kemasan botol plastik, hingga beberapa jenis produk lainnya yang belakangan ini mengalami penurunan signifikan pasokannya,” terangnya.

Dari hasil diskusi dengan pedagang, masih dikatakan , penurunan pasokan ini sudah terjadi sekitar 3 pekan sebelumnya. “Dan situasinya memburuk hingga saat ini, padahal produk-produk tersebut menguasai sekitar 70 persen pasokan barang yang dijual oleh grosiran,” katanya.

Sejauh ini, masih dikatakan Gunawan Benjamin, pedagang masih mampu bertahan karena barang sejenis dari merek yang sebelumnya kurang laku juga mulai diburu konsumen.

Bersamaan dengan hal tersebut, pedagang juga mulai mengkhawatirkan gangguan pasokan barang itu sendiri. “Tetap ada kecemasan di mana semua stok yang tersedia saat ini bakalan terkuras jika tidak ada tambahan barang masuk dari produsen,” akunya.

Ia mengaku, dampak perang di timur tengah yang sampai detik ini belum terlihat akan usai, telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan bahan baku untuk pembuatan plastik.

Ditambah lagi ada pelemahan rupiah yang telah mendorong kenaikan beban impor, ditambah potensi kelangkaan biji plastik yang juga telah mendorong kenaikan harga bahan baku plastik (nafta) itu sendiri.

“Sejauh ini pemerintah telah menggratiskan pajak impor (0 persen) untuk bahan baku plastik (biji plastik). Sudah pasti kebijakan tersebut memperingan beban pelaku usaha. Namun sayangnya langkah pemerintah itu justru tertutupi dengan pelemahan mata uang rupiah, kenaikan harga minyak dunia hingga kenaikan harga plastik itu sendiri,” ujarnya.

Alhasil kebijakan pemerintah tidak begitu terlihat dampaknya, karena tren kenaikan harga plastik berikut potensi pasokannya masih alami tekanan. 

Selama perang di masih berlangsung, maka dampak buruknya akan dirasakan langsung ke para ibu rumah tangga. “Dan tanpa inovasi dari produsen untuk menyediakan produk alternatif, atau jika perang eskalasinya terus alami peningkatan,” akunya.

Maka yang paling dekat yang akan dihadapi konsumen, kata Gunawan Benjamin, adalah potensi kenaikan harga. Dan berpotensi mengancam kelangkaan bahan baku (nafta) itu sendiri.

(Akb/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait