nusantaraterkini.co, ACEH - Budayawan Aceh, Davi Abdullah meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh membuat aturan terkait pakaian modern Islami.
Aturan tersebut, kata dia, tidak mengekang, tapi memberikan pilihan dengan menghadirkan solusi pakaian-pakaian modern tapi islami.
"Saat ini, Banda Aceh kembali dihadapkan pada persoalan pelanggaran syariat Islam yang semakin meningkat, khususnya terkait dengan cara berpakaian warga yang dinilai tidak sesuai dengan aturan Islam," ujar Davi Abdullah, dikutip RMOLAceh, Jumat (17/1/2025).
Baca Juga : KPK Panggil Wali Kota Semarang Terkait Kasus Suap Pengadaan Barang dan Jasa
Menurut Davi, beberapa waktu terakhir, banyak warga Banda Aceh, terutama kaum laki-laki, masih mengenakan celana pendek yang dianggap tidak mencerminkan budaya Islami. Fenomena tersebut memicu diskusi di kalangan masyarakat, serta beberapa media memberitakan meningkatnya pelanggaran syariat islam di Kota Banda Aceh.
Menurut Davi, penggunaan celana pendek oleh laki-laki adalah salah satu contoh hegemoni budaya barat yang mulai menguasai kehidupan masyarakat Aceh. Dia berpandangan, Aceh sebagai daerah yang kental dengan nilai-nilai Islam, seharusnya memiliki budaya berpakaian yang mencerminkan identitas lokal dan Islami.
Baca Juga : Menko Zulhas Pastikan Harga Bapok Murah dan Stabil
“Pakaian adalah salah satu aspek terpenting dalam budaya. Tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, atau penutup aurat dalam keyakinan islam. Pakaian juga menjadi simbol status sosial, identitas,” ujarnya.
"Hal ini merujuk pada fashion, gaya berpakaian. fashion lebih pada mengekspresikan diri dalam berpakaian. Bagian dari budaya, fungsi dan kenyamanan serta tuntutan dalam keyakinan beragama," tambahnya.
Baca Juga : 40 Anak Keracunan Makanan Bergizi Gratis, Istana Minta BGN Evaluasi
Menurut Davi, budaya juga mempengaruhi perkembangan fashion, misalnya dalam pakaian yang tertutup menjadi bagian dari identitas dan moral, sementara dalam budaya lain, kebebasan berekspresi dan pakaian lebih terbuka melalui fashion lebih dihargai. Fashion menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas, status sosial, dan pandangan hidup.
Davi menegaskan bahwa berpakaian adalah bentuk ekspresi kebudayaan. Masyarakat Aceh perlu kembali mengembangkan budaya berpakaian yang sesuai dengan nilai-nilai lokal dan Islami, serta mengurangi pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan syariat.
Baca Juga : Bayi Laki-Laki Ditemukan di Warung Pecel: Polisi Selidiki Orang Tua
“Dalam kebudayaan, setiap individu memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan bukanlah dengan membatasi pilihan pakaian, melainkan dengan memberikan pandangan baru dan menciptakan budaya berpakaian yang modern namun tetap sesuai dengan ajaran Islam,” sebutnya.
Menurutnya, tantangan saat ini, semua pihak tidak mampu melawan hegemoni barat terhadap budaya Islami. Salah satunya dalam bentuk pakaian, namun Davi berharap pendekatan serta solusi lain untuk menjawab persoalan berpakaian dengan memilih gaya berpakaian yang tidak hanya modern tetapi juga Islami.
"Ini bisa menjadi langkah penting dalam menjaga identitas budaya Aceh di tengah arus globalisasi. Jadi, pemerintah dan dunia usaha kita dukung untuk mendapatkan jawaban dari kebutuhan pasar dengan menghadirkan pakaian modern yang Islami dan bisa diterima oleh masyarakat,” ujarnya.
Davi sangat yakin, jika peraturan berbusana modern dalam pandangan Islam ini diterapkan, akan menjadi tren baru yang tidak hanya memperkuat identitas budaya Aceh, tetapi juga memperkaya khasanah fashion Islami di Indonesia.
Sebelumnya, Ketua Komisi C Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk. H. Umar Rafsanjani, menyoroti fenomena semakin maraknya laki-laki di Banda Aceh yang mengenakan celana pendek di tempat umum. Menurutnya, perilaku tersebut bertentangan dengan Syariat Islam yang menjadi landasan hukum di Aceh.
"Ini pelanggaran serius terhadap syariat Islam yang sudah menjadi regulasi resmi di Aceh. Pemandangan ini merusak moral masyarakat dan mencoreng identitas kita sebagai daerah yang menegakkan hukum Islam,” kata Tgk Umar Rafsanjani, dalam keterangan beberapa waktu lalu.
(Dra/nusantaraterkini.co).
