Brutalitas Aparat kepada Rakyat dalam Demonstrasi Jadi Kado Pahit HUT DPR ke-80
Tepat 29 Agustus 2025 kemarin DPR RI memperingati HUT ke 80. Jika diibaratkan dengan usia manusia, umur 80 tahun itu tentu menunjuk pada kondisi seseo
nusantaraterkini.co, JAKARTA - Tepat 29 Agustus 2025 kemarin DPR RI memperingati HUT ke 80. Jika diibaratkan dengan usia manusia, umur 80 tahun itu tentu menunjuk pada kondisi seseorang yang sudah umur, tua, lelah, dan sakit-sakitan.
Jika diusia ke-80 seseorang masih terlihat bugar, maka sebuah pesta syukur layak digelar. Apalagi kalau kebugaran itu membuat seseorang tetap aktif berkarya, tentu akan semakin layak untuk merayakan usia tersebut.
Kalau terlihat sakit-sakitan, lesu, dan kehilangan semangat, orang akan tetap bersyukur karena bisa bertahan hidup, walaupun kekhawatiran akan akhir dari perjalanan di dunia sudah mulai mengancam.
Hal ini disampaikan Peneliti Formappi Lucius Karus menanggapi keberadaan DPR RI yang genap memasuki usia ke-80 sejak dibentuk 29 Agustus 1945 dan ditambah fenomena polemik tunjangan anggota DPR yang memantik kemarahan rakyat.
Lucius melanjutkan, kalau usia DPR yang ke-80 diibaratkan dengan kondisi umur seseorang, maka nampaknya DPR pada usianya yang ke-80 masuk dalam kategori pesakitan, lelah, lesu, tak bersemangat sebagai lembaga.
Anehnya bagi DPR, di usia renta lembaganya, para anggota DPR memperlakukan lembaga itu seperti masih berusia 20an tahun.
"Lihat saja hasil kerja DPR yang ibarat seperti anak baru mulai kerja setamat sekolah menengah. Antara baru belajar bekerja, dan semangat hidup tinggi dengan mempertontonkan gaya hidup hedon hasil upah tinggi yang diberikan negara," kata Lucius, Sabtu (30/8/2025).
Ia berpendapat, kelihatan sekali kontras antara usia lembaga yang sudah uzur, tetapi dihuni anggota yang bergaya hedon tetapi kerja belepotan. Paradoks usia lembaga dan gaya para anggota yang hedon walau kerja berantakan jadi refleksi DPR di HUT ke-80 ini.
Dan refleksi itu menjadi bertambah dalam karena menjelang HUT ke-80 itu, rakyat sendiri yang mengantarkan bahan refleksi ke DPR melalui aksi massa.
Rakyat pun mempertanyakan DPR hingga menyerukan pembubaran lembaga itu. Teriakan pembubaran DPR itu adalah gugatan eksistensial bagi DPR, apakah dengan tuanya usia lembaga, bangsa ini masih memerlukannya atau tidak? Dan karena itu seharusnya relevan diucapkan bersamaan dengan perayaan HUT ke-80 kali ini.
"Sayangnya bantuan warga untuk memperdalam refleksi eksistensial DPR itu justru tak disambut oleh DPR. Mereka tak ingin berpesta dengan rakyat sembari merenungkan usia tua lembaga parlemen itu dan.mencari cara untuk menyegarkan hidup di usia yang uzur," ujarnya.
Lucius berpandangan, anggota DPR justru memilih berpesta sendiri di rumah masing-masing sambil mencegah keikutsertaan rakyat berpesta bersama mereka.
Mereka tak ingin anggaran pesta mereka (tunjangan) dipertanyakan rakyat, apalagi dipaksa untuk dihentikan. Artinya anggota DPR tetap ingin tampil hedon walau rakyat menolak.
"Untuk itu rakyat dibiarkan menjadi tamu aparat yang sayangnya tak pernah ramah menjamu rakyat yang datang untuk para wakil rakyat.
Brutalitas aparat dalam demonstrasi saat HUT DPR Ke-80 tentu jadi kado pahit bagi DPR sekaligus mengukuhkan jarak.yang semakin lebar antara rakyat dan para wakil," tuturnya.
Lebih lanjut Lucius menilai, jarak yang makin lebar itu mengikis kepercayaan rakyat kepada anggota DPR. Itu tentu sangat berbahaya karena jabatan anggota DPR itu.merupakan jabatan atas dasar kepercayaan rakyat untuk tempo yang terbatas.
Apalagi, kepercayaan rakyat kepada anggota sifatnya terbatas. Aturan mengatakan bahwa batasnya itu 5 tahun. Akan tetapi jika rakyat kehilangan kepercayaan sebelum batas akhir 5 tahun, maka tetap saja 'tak ada alasan bagi anggota DPR bertahan, bekerja'.
"Kalau anggota DPR bekerja tanpa kepercayaan rakyat, lalu dari dan untuk siapa anggota DPR itu bekerja? Bukankah seharusnya jika kepercayaan sudah hilang, maka anggota DPR itu harus juga mengembalikan mandat ke rakyat?," tandasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
VIRALViral, Pria Diduga Kepala SPPG di Tebingtinggi Kepergok Istri Sah Dugem Bareng Selingkuhan Berujung Pelaporan
Rozie Winata·27 menit yang lalu -
NASIONALAnggota DPR Desak Evaluasi Sistem Keselamatan Pelayaran
Herman Saleh Harahap·32 menit yang lalu -
NEWSKasus Pembunuhan Garunggang Terungkap 3 Hari, Ketua SIP 08 Sumut Apresiasi Kapolsek Kuala Syamsul Bahri dan 8 Personel
hendra·59 menit yang lalu -
KRIMINALBawa 44 Bungkus Sabu dari Aceh, Dua Pria Ditangkap di Besitang
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALTinjau API Banyuwangi, Wamenaker Minta Peserta MagangHub Asah Kompetensi
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
PERISTIWAPembangunan Tong Pengolahan Emas di Desa Simalagi Madina Telan Korban Jiwa
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELGubernur Sumsel Tinjau Penanganan Karhutla dan Kondisi Gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTBuddha Tzu Chi Bangun 241 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Padangsidimpuan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOBuddha Tzu Chi Indonesia Kembali Bantu Korban Bencana, 241 Huntap di Padangsidimpuan Dibangun
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
KRIMINALMasuk Panti Rehabilitasi, Pasien Narkoba Lapor Polisi karena Ngaku Dianiaya hingga Gendang Telinga Pecah
Rozie Winata·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan