Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, Menteri Keuangan G7 Gelar Pertemuan Darurat di Paris

Menteri keuangan G7 gelar pertemuan darurat di Paris untuk mengantisipasi dampak penutupan Selat Hormuz terhadap ekonomi global.

Ilustrasi G7(foto: rmol)
Ilustrasi G7(foto: rmol)
A A

Nusantaraterkini.co,  – Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara anggota dijadwalkan menggelar pertemuan darurat di Paris, Prancis, Senin dan Selasa pekan ini. Pertemuan krusial tersebut sengaja digelar di tengah meningkatnya kecemasan global terhadap ancaman krisis ekonomi baru akibat konflik berkepanjangan di , khususnya imbas penutupan yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

​

Gangguan pada urat nadi pengiriman minyak dan gas internasional ini mulai memberikan tekanan hebat pada pasar finansial. Presiden Eurogroup, Kyriakos Pierrakakis, menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi harga mati demi meredam gejolak yang mulai meluas ke berbagai negara. 

“Pembukaan dan pengakhiran konflik secara permanen sangat penting dalam mengurangi dampak terhadap perekonomian,” ujar Pierrakakis seperti dilansir RMOL, Senin (18/5/2026).

​

Imbas dari konflik ini, kepanikan investor terhadap ancaman inflasi memicu lonjakan tajam biaya pinjaman jangka panjang di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 30 tahun meroket hingga 5,12 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025. 

Tren serupa dialami Inggris yang mencatat imbal hasil obligasi tertinggi sejak akhir 1990-an, serta Jepang yang kian rentan karena ketergantungan penuh pada impor komoditas energi.

Kondisi ini diperparah dengan meroketnya secara signifikan. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli merangkak naik ke level 109,26 Dolar AS per barel, mencatatkan lonjakan harga sekitar 74 persen sejak awal tahun 2026. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga ikut menguat ke posisi 105,42 Dolar AS per barel.

​

Badan Energi Internasional () dalam laporan terbarunya turut mengeluarkan peringatan keras mengenai menipisnya cadangan minyak global yang dikuras untuk menutupi minimnya pasokan dari Timur Tengah. IEA memproyeksikan harga bahan bakar masih akan terus merangkak naik menjelang puncak permintaan pada musim panas mendatang. 

“Cadangan yang menyusut dengan cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang,” tulis dalam rilisnya.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait