Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati: Penerimaan Negara Belum Optimal, Perlu Usaha yang Masif

Editor:  hendra
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Penerimaan Negara Belum Optimal, Perlu Usaha yang Masif. Anis Byarwati (Foto: dok fraksi PKS)

nusantaraterkini.co, JAKARTA - Realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2025 tercatat sebesar sebesar Rp 516,1 triliun, sementara belanja negara Rp 620,3 triliun. 

Anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati mengingatkan Kementerian Keuangan untuk terus mendorong peningkatan pendapatan negara di tengah dinamika geopolitik global

"Penerimaan perpajakan hingga akhir maret mencapai 16,1 persen dari target APBN, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang melampaui 20 persen, atau 2023 sebesar 24,96 persen, tentu tidak bisa terlepas dari pengaruh ekonomi global, tarif dan efektifitas Coretax,” katanya, Selasa (22/4/2025).

Baca Juga : Jaga Kepercayaan Publik, Anis Byarwati Minta Kasus DSI Diselesaikan Secara Bertanggung Jawab

Anggota Baleg DPR ini memberikan saran kepada pemangku kebijakan agar segera perbaiki Core tax dan melakukan penetrasi pasar lebih besar kepada Amerika Serikat. 

“Terdapat potensi yang cukup besar untuk meraup tambahan $6,4 Miliar dengan asumsi 10% pangsa pasar peers Penetrasi pasar ini bermanfaat besar bagi ekonomi Indonesia, karena memiliki multiplier effect besar dari penciptaan lapangan kerja untuk sektor padat karya,” ungkapnya.

Politikus PKS ini menyebut bahwa turunnya juga harga komoditas sangat berdampak terhadap penerimaan negara (Pajak dan PNBP). 

Baca Juga : Apresiasi Kinerja Presiden Prabowo Sepanjang 2025, Legislator: Negara Hadir dan Berpihak pada Rakyat

“Kita sudah mengingatkan Pemerintah untuk meminimalisir dampak anjloknya harga komoditas. Terbukti penurunan harga komoditas sangat sensitif terhadap penerimaan negara,” paparnya.

Akan tetapi Anis juga mengapresiasi penerimaan pajak per Maret 2025 (yoy) mulai tumbuh positif. 

“Kinerja yang sudah baik harus dipertahankan, seperti penerimaan kumulatif Desember 2024 sampai dengan Maret 2025 menunjukan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga : Komisi XI: Kesehatan Finansial Keluarga Adalah Pilar Utama Ketahanan Ekonomi

“Pelaksanaan realisasi anggaran harus berjalan sesuai jadwal, Ini seringkali jadi hal tersulit untuk dilakukan, beragam instansi pemerintah mengalami keterlambatan penyerapan anggaran, padahal ketidakpastian global kian nyata sehingga memerlukan usaha yang masif dari setiap lini pemerintah,” kata legislator dapil Jakarta ini.

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR ini mendorong agar APBN segera didistribusikan kepada sektor yang memiliki multiplier effect yang tinggi, sehingga memacu sektor usaha kecil hingga besar mendapat manfaat dari aliran uang yang meningkat. 

“Apalagi menurut data Survei Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dalam 3 bulan beruntun sejak Januari 2025, sehingga ini harus menjadi konsen dari para pemangku kebijakan,” ungkapnya. 

Baca Juga : Kinerja APBN Belum Optimal: Legislator Soroti Penurunan Pendapatan dan Lambatnya Realisasi Belanja

(cw1/nusantaraterkini.co)