Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Anggaran Rp13 Triliun KKP Harus Menjawab Kebutuhan Riil Masyarakat Pesisir

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo. (Foto: dok DPR)

Nusantaraterkini.co JAKARTA - Pagu Anggaran Rp13 triliun bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk tahun anggaran 2026 dipandang sebagai peluang besar untuk menghadirkan manfaat konkret bagi nelayan, pembudidaya dan masyarakat pesisir.

Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo mengatakan, penetapan anggaran ini bukan semata soal nominal, melainkan juga bentuk tanggung jawab besar negara untuk mengelola potensi laut Indonesia.

Menurutnya, sektor kelautan dan perikanan memegang peranan penting dalam menopang ketahanan pangan, meningkatkan daya saing ekonomi pesisir, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

Baca Juga : Anggaran Pendidikan Naik, Komisi X: Jangan Ada Lagi Guru Honorer Bergaji Rp300 Ribu

“Anggaran ini harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat pesisir. Jangan sampai hanya berhenti pada wacana atau proyek yang tidak dirasakan langsung oleh nelayan,” ujarnya, Rabu (17/9/2025).

Firman menjelaskan, sejumlah program yang masuk dalam rencana kerja KKP perlu dikawal agar betul-betul memberikan dampak. Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) misalnya, diharapkan tidak sekadar menjadi proyek fisik, tetapi mampu mendorong terbentuknya pusat aktivitas ekonomi baru di kawasan pesisir.

Begitu juga revitalisasi tambak udang rakyat yang harus memperhatikan akses teknologi, pendampingan, hingga pasar.

Selain itu, pengembangan rumput laut, lobster, dan ikan bawal bintang menjadi penting untuk menggerakkan ekonomi budidaya yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga : Legislator Tekankan Transparansi dan Efisiensi dalam Pembahasan Anggaran Pertanian 2026

“Kita ingin masyarakat pesisir bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang dengan produk-produk unggulan yang bisa bersaing,” tegas politikus Golkar ini.

Firman juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran. Dengan jumlah dana yang tidak kecil, diperlukan pengawasan berlapis agar pelaksanaan program terhindar dari kebocoran maupun tumpang tindih.

Ia pun memastikan, DPR akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara ketat terhadap implementasi kebijakan di sektor ini.

“Kami akan memastikan setiap rupiah yang dialokasikan tepat sasaran. Jangan sampai program hanya sekadar serapan anggaran tanpa hasil nyata di lapangan,” tutur anggota Baleg DPR ini.

Selain mengacu pada kebutuhan masyarakat, ia turut menekankan agar anggaran tersebut sejalan dengan agenda prioritas Presiden.

Hal ini termasuk pembangunan sentra pergaraman nasional untuk mengurangi ketergantungan impor, revitalisasi laboratorium jaminan mutu agar produk perikanan Indonesia bisa diterima di pasar global, serta penguatan pengawasan sumber daya kelautan untuk menjaga kedaulatan di wilayah perairan Indonesia.

Baca Juga : Legislator Tekankan Transparansi dan Efisiensi dalam Pembahasan Anggaran Pertanian 2026

Firman menambahkan, perhatian serius juga perlu diberikan pada pendidikan dan pelatihan vokasi bagi masyarakat pesisir. Dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, diharapkan nelayan dan pembudidaya tidak hanya menjadi pelaku produksi, tetapi juga mampu mengelola usaha dan memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas.

Dari keseluruhan alokasi Rp13 triliun tersebut, ia berharap agar setiap program dapat berjalan secara konsisten, tidak berhenti pada tataran wacana, serta benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Pemberdayaan pesisir, menurut Firman, bukan hanya soal peningkatan pendapatan, tetapi juga soal pemerataan pembangunan dan penguatan ketahanan pangan nasional.

(cw1/nusantaraterkini.co)