Nusantaraterkini.co, SIBOLGA - Sudah 23 hari puluhan warga Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, bertahan di Masjid Al-Istiqomah, di Jalan Sisingamangaraja, Sibolga. Hal ini dikarenakan banjir dan longsor yang menerjang permukiman mereka pada Selasa (25/11/2025).
Mereka menyebut bantuan pemerintah belum sepenuhnya dirasakan, sehingga kebutuhan harian banyak bergantung pada solidaritas warga dan lembaga kemanusiaan.
Baca Juga : Sungai Aek Doras Meluap, Banjir Kembali Rendam Sebagian Kota Sibolga
Para pengungsi mengatakan, masjid yang berubah fungsi menjadi tempat tinggal darurat hanya mampu memenuhi kebutuhan paling dasar. Ruang yang terbatas membuat keluarga harus berbagi tikar dan peralatan sederhana, sementara akses air bersih dan fasilitas sanitasi masih minim.
“Selama di sini, kami lebih sering mendapatkan makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan warga sekitar,” kata Ani Tambak (41), salah satu pengungsi saat ditemui di lokasi, Rabu (10/12/2025).
“Tapi kebutuhan lain seperti perlengkapan bayi dan obat-obatan sering tidak ada," sambungnya.
Baca Juga : BPJS Kesehatan Buka Posko Layanan Kesehatan Korban Bencana Aceh dan Sumatera Utara
Relawan dari berbagai organisasi datang bergantian mengantar makanan siap saji dan barang kebutuhan dasar. Namun, menurut warga, belum ada kepastian kapan mereka bisa kembali ke rumah atau dipindahkan ke hunian sementara yang lebih layak.
Selama itu, menurut keterangan seorang pengurus Masjid Al-Istiqomah, Suratno (64), seluruh kebutuhan pengungsi sebagian besar, difasilitasi oleh masjid. Termasuk air bersih, alas tidur, hingga fasilitas penerangan.
"Semua kebutuhan warga yang mengungsi di masjid disediakan secara sukarela oleh masjid. Meski sebenarnya, masjid ini bukanlah posko yang ditentukan pemerintah," katanya.
Dia juga mengatakan, sebagian warga yang tinggal di kawasan masjid sudah mulai terganggu atas aktivitas pengungsi. Mereka dianggap menganggu.
"Benar tetangga sudah mulai melapor ke kita. Tapi, kita gak mungkin mengusir mereka inikan rumah Allah, semua punya hak," ujar Suratno.
Sementara itu, tiga hari setelah bencana melanda warga Kelurahan Aek Manis, Walikota Sibolga dan Ketua DPRD kota Sibolga telah meninjau masjid. Tinjauan itu hanya sekali.
Suratno mengatakan, jika kebutuhan dasar para pengungsi telah disampaikan langsung kepada kedua sosok tersebut. Namun, hingga kini, sudah 23 hari mengungsi realisasinya tidak terjadi. Suratno mengaku kecewa.
"Mau menangis saya melihat warga yang mengungsi di sini. Harusnya mereka bergabung di posko yang sudah disediakan pemerintah namun, mereka takut karena lokasinya dianggap dekat dengan pegunungan," ucap Suratno.
Nusantaraterkini.co, telah melakukan konfirmasi terkait kondisi tersebut kepada pemerintahan serta legislatif kota. Namun, hingga kini upaya tersebut belum berbalas.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
