Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Waspada Jika Jalan-Jalan ke Solo! Ternyata Banyak Kuliner Nonhalal di Kota Solo?

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kuliner nonhalal lain di Solo pun ikut jadi sorotan. Banyak yang baru tahu bahwa ada banyak pilihan menu nonhalal di kota batik ini. Sebut saja sate babi, babi kuah, tongseng babi, hingga sate jamu (berbahan daging anjing) yang kontroversial.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Bagi umat muslim di tanah air wajib membaca terkait Kuliner nonhalal di Solo tengah jadi sorotan usai viral kasus Ayam Goreng Widuran yang banyak dikira halal ternyata nonhalal.

Menyoal kehadiran kuliner nonhalal di Solo, ternyata berawal dari peristiwa bersejarah Geger Pacinan.

Kasus Ayam Goreng Widuran di Solo mendapat perhatian luas dari publik karena menu ayam goreng yang banyak dikira pasti halal, ternyata nonhalal di tempat ini.

Baca Juga : Wajib Baca! Inilah Daftar 5 Kuliner Non Halal di Solo yang Tak Semua Orang Tahu

Penyebabnya karena kremesan ayam goreng diproses bersama minyak babi, seperti diungkap seorang pegawainya.

Kuliner nonhalal lain di Solo pun ikut jadi sorotan. Banyak yang baru tahu bahwa ada banyak pilihan menu nonhalal di kota batik ini.

Sebut saja sate babi, babi kuah, tongseng babi, hingga sate jamu (berbahan daging anjing) yang kontroversial.

Baca Juga : Ternyata Bukan Semarang atau Solo! Ini Daerah Terkaya di Jawa Tengah

Lantas bagaimana awalnya kuliner nonhalal menjamur di Solo? 

Menurut chef sekaligus sejarawan kuliner, Wira Hardiyansyah menjelaskan sejarahnya. Ia menuturkan meleburnya budaya Pecinan di Solo terjadi sekitar abad ke-18 hingga ke-19.

"Saat itu Belanda mengumpulkan orang etnis Tionghoa di belakang Pasar Gede. Semakin lama, interaksi sosial terjadi, tapi mereka tidak berani terlalu ekstrem. Lalu ketika presiden Gus Dur memberi kebebasan kepada etnis Tionghoa, baru semuanya menjamur," ujar Wira.

Baca Juga : Viral Mobil SPPG Angkut Babi dan Ayam di Nisel

Dalam hal ini, kuliner nonhalal pun jadi jamak ditemui di Solo. Ini juga karena ada permintaan pasar.

"Jadi orang-orang China di Solo itu biasanya merantau dari daerah sekitar di Jawa Tengah, seperti dari Semarang. Saat mereka merantau, mereka membuat masakan nonhalal yang sifatnya rumahan," kata Wira.

Ia melanjutkan, "Jadi masakan rumahan nonhalal itu sebagai pelepas rindu saat merantau dari kampung. Pada akhirnya disukai orang lain juga. Bahkan di Solo ada festival kuliner nonhalal."

Baca Juga : Limbah Babi di Kecamatan Tembung Dikeluhkan Warga, DPRD Medan Bilang Belum Dapat Data

(wiwin/nusantaraterkini.co)