Nusantaraterkini.co, SAMOSIR- Warga Parsaoran 1 Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara mengubah limbah Eceng Gondok yang mencemari perairan Danau Toba menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomis.
Beberapa kerajinan tangan yang di hasilkan dari limbah Eceng Gondok ini berupa sendal, tempat tisu, topi, tas dan alas piring. Produk hasil olahan dari binaan pemerintah kabupaten Samosir yang dinamakan bank Eceng Gondok ini dipasarkan melalui gerai usaha kecil mikro menengah (UMKM), pasar bajar juga dan juga ke beberapa perhotelan yang ada di kabupaten Samosir.
Proses pengolahan limbah Eceng Gondok yang dilalukan warga sudah berjalan selama setahun terakhir, namun beberapa kendala yang di alami yaitu minimnya peralatan yang memadai seperti alat jahit dan minimnya alat pipih yang digunakan untuk mengempeskan Eceng Gondok.
Baca Juga : WBP Rutan Pemalang Terima Premi Hasil Pembinaan Kemandirian Pembuatan Kerajinan
Togar Siboro pembina Bank Eceng Gondok mengatakan langkah yang mereka lakukan untuk mengelola limbah yang di anggap masyarakat tidak berguna bisa menghasilkan nilai ekonomis dan menambah pendapatan kepada masyarakat sekitar menjadi kebanggan tersendiri baginya.
"Kami disini aktivitasnya adalah mengolah Eceng Gondok yang konon katanya itu adalah hama, ternyata kita buatkan suatu prodak hasil karya baik itu sendal dari Eceng Gondok yang di jual ke hotel, baik itu juga tas, baik itu juga tempat tisu dan topi," ungkapnya.
Baca Juga : Warga Samosir Gesitkan Skill Mengayam Eceng Gondok Menjadi Bahan Kerajinan Bernilai Ekonomis
Dalam pengolahan Eceng Gondok menjadi kreatifitas yang bernilai ekonomis, komunitas bank Eceng Gondok juga memberdayakan pemuda-pemuda setempat.
"Aktifitas kami juga melibatkan anak-anak muda yang ada di Samosir, kami yakin dan percaya pemerintah akan mendorong terkait aktivitas bank Eceng Gondok dan kedepan kami percaya ini akan menjadi besar karena ada didalam unsur keterkaitan baik dari hubungan lingkungan hidupnya, kepariwisataan nya dan juga ekonomi kreatif nya," ujarnya.
Sardo Sitanggang salah satu pengrajin UMKM yang mengolah Eceng Gondok menjadi beberapa kerajinan tangan yang mereka hasilkan mengatakan hal tersebut bermanfaat untuk kebersihan lingkungan juga menambah pendapatan warga sekitar.
Baca Juga : MPR Dorong Ekonomi Sirkular sebagai Strategi Pembangunan Nasional
"Saya sebagai pemuda setempat Sangat senang bisa mengolah limbah sampah menjadi bernilai ekonomis, mulai pengambilan dari danau pengeringan sampai pencetakan sendal dan taplak sendal," ujarnya.
Ia mengatakan untuk proses pembuatan Eceng Gondok menjadi satu jenis barang kerajinan memerlukan waktu sekitar dua Minggu sampai ke proses penjualan.
"Proses pengeringan Eceng Gondok sekitar 4 hari sampai satu Minggu , setelah kering dilanjutkan ke tahap penggilingan kemudian dilanjutkan ke tahap penganyaman membentuk sendal Eceng Gondok sesuai dengan ukuran sendal," jelasnya.
Baca Juga : Soal Keluhan Aroma dan Limbah Ternak Babi di Medan Tembung, DPRD Medan Minta Surat Keberatan Warga
Sardo berharap dengan pengolahan sampah tersebut bisa mengurangi limbah yang mencemari Danau Toba sekaligus memberdayakan masyarakat dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.
"Semoga banyak wisatawan yang datang untuk membeli produk kami dan meningkatkan perekonomian warga sekitar," pungkasnya.
Baca Juga : Aksi Bersama Bersihkan Eceng Gondok di Danau Toba Desa Palipi
(jbs/nusantaraterkini.co)
