nusantaraterkini.co, AFGHANISTAN – Pemerintahan Taliban memutus akses internet berkecepatan tinggi dan jaringan telekomunikasi di seluruh Afghanistan. Kebijakan drastis ini diumumkan akan berlangsung tanpa batas waktu.
“Tidak ada lagi jalur komunikasi yang bisa digunakan. Sektor perbankan, bea cukai, hingga layanan publik di seluruh negeri otomatis lumpuh,” kata seorang pejabat Taliban.
Kondisi tersebut membuat warga Afghanistan benar-benar terisolasi. Aktivitas bisnis daring terhenti, sistem perbankan macet, hingga diaspora di luar negeri tak bisa lagi mengirim uang bagi keluarga mereka. Bahkan seluruh jadwal penerbangan di Bandara Kabul ikut dibatalkan.
Baca Juga : 565 Narapidana Afghanistan Dibebaskan dari Penjara di Pakistan dan Irak
Misi Bantuan PBB untuk Afghanistan (UNAMA) menilai langkah ini sangat berbahaya. “Pemutusan akses membuat rakyat Afghanistan nyaris sepenuhnya terputus dari dunia luar. Situasi ini berpotensi menimbulkan kerugian besar, mengancam stabilitas ekonomi, dan memperparah salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia,” bunyi pernyataan UNAMA.
Kantor HAM PBB pun menegaskan, pemadaman internet tersebut merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. “Perempuan dan anak perempuan, yang selama ini sudah tersisih dari ruang publik, kini menjadi kelompok yang paling terdampak,” tegas pernyataan itu.
Sejak mengambil alih pemerintahan pada 2021, ini pertama kalinya Taliban memutus total akses komunikasi digital. Di lapangan, dampaknya langsung terasa.
Baca Juga : Trump Ingin Rebut Lagi Pangkalan Udara Bagram, Singgung Ancaman China
“Saya datang ke kantor pagi ini, tapi tidak bisa melayani transaksi apa pun. Klien tak bisa mengakses layanan perbankan, penarikan uang, atau otorisasi transfer,” kata seorang pegawai bank yang enggan disebut namanya.
Ia menambahkan, “Baru ketika internet hilang, kami sadar betapa vitalnya peran internet dalam kehidupan sehari-hari.”
Kantor pos pun berhenti beroperasi karena bergantung pada layanan bank. Sementara itu, Taliban menolak memberi akses bagi jurnalis asing yang ingin meliput ke Kabul. Pasukan keamanan bahkan harus kembali menggunakan radio untuk berkomunikasi di bandara dan kantor publik.
(Dra/nusantaraterkini.co).
