Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Senin (27/1/2025) pukul 7.23 WIB, harga minyak WTI kontrak Maret 2025 di New York Mercantile Exchange turun 0,67% ke US$ 74,16 per barel.
Harga minyak melemah di awal pekan ini, melanjutkan pelemahan yang terjadi pekan lalu.
Sedangkan harga minyak Brent kontrak Maret 2025 di ICE Futures turun 0,56% ke US$ 78,06 per barel.
Baca Juga : Presiden Brasil Lula da Silva Tuduh Trump Berupaya Ciptakan PBB Baru dan jadi Pemilik Tunggal
Pekan lalu, harga minyak mencatat penurunan sepekan. Ini adalah penurunan mingguan pertama setelah kenaikan empat pekan berturut-turut.
Harga minyak tertekan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri sambil menuntut OPEC untuk menurunkan harga minyak mentah.
Donald Trump juga menyerukan pada OPEC untuk memangkas harga minyak guna merugikan keuangan Rusia yang kaya minyak dan membantu mengakhiri perang di Ukraina.
Baca Juga : Ancaman Krisis Energi dan Ekonomi, AS Pertimbangkan Blokade Total Minyak Kuba
"Salah satu cara untuk menghentikannya dengan cepat adalah dengan meminta OPEC berhenti menghasilkan begitu banyak uang dan menurunkan harga minyak. Maka perang itu akan segera berakhir," kata Trump seperti dikutip Reuters pekan lalu.
Ancaman sanksi keras AS terhadap Rusia dan Iran, yang merupakan produsen minyak utama, dapat merusak tujuan Trump untuk menurunkan biaya energi, kata analis StoneX Alex Hodes dalam sebuah catatan pada hari Jumat.
"Trump mengetahui hal ini dan telah menekan OPEC untuk menutupi kekosongan yang akan ditimbulkan oleh hal ini," kata Hodes.
Baca Juga : Bersaksi di Sidang Tipikor, Ahok Tantang Jaksa Periksa Menteri BUMN hingga Presiden
Analis komoditas UBS Giovanni Staunovo memperkirakan OPEC akan mengubah kebijakan kecuali ada perubahan fundamental. "Pasar akan relatif tenang sampai kita mendapatkan kejelasan lebih lanjut tentang kebijakan sanksi dan tarif," ungkap Staunovo.
Trump mengumumkan keadaan darurat energi nasional pada hari Senin (20/1) lalu. Dia mencabut pembatasan lingkungan pada infrastruktur energi sebagai bagian dari rencananya untuk memaksimalkan produksi minyak dan gas dalam negeri.
"Pembatalan ini dapat mendukung permintaan minyak tetapi berpotensi memperburuk kelebihan pasokan," kata Nikos Tzabouras, spesialis pasar senior di platform perdagangan Tradu.
