Sarjana Pendidikan ini Pilih jadi Srikandi Manggala Agni, Tinggalkan Kapur Tulis Demi Selang Pemadam
Sarjana Pendidikan ini Pilih jadi Srikandi Manggala Agni, Tinggalkan Kapur Tulis Demi Selang Pemadam
Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Semangat kemerdekaan yang gaung perayaannya memenuhi pelosok negeri pada Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia bukan sekadar seremonial pengibaran bendera.
Di balik perayaan tersebut, makna perjuangan kini mengejawantah dalam wujud menjaga kedaulatan alam dan melindungi keselamatan rakyat dari ancaman bencana lingkungan.
Di Sumatera Selatan, perjuangan mengisi kemerdekaan itu hadir melalui aksi nyata para petugas garda depan yang mendedikasikan jiwanya demi memastikan bumi tempat berpijak bebas dari kepungan asap di tengah maraknya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau saat ini.
Di antara tebalnya asap dan panasnya bara karhutla, berdiri sosok Lessy Yunistin Prahayu. Wanita yang akrab disapa Lessy ini merupakan lulusan Universitas Sriwijaya dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Namun, alih-alih berada di dalam ruang kelas dengan kapur atau spidol, sejak tahun 2020 lalu Lessy justru memilih jalan pengabdian menjadi tim satgas karhutla di Daops Manggala Agni XIV Banyuasin.
Meski bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya yang berorientasi pada dunia mengajar, dorongan nurani untuk berkontribusi menjaga lingkungan dan melayani masyarakat menjadi alasan kuat baginya menembus batasan.
"Motivasi saya bergabung di Manggala Agni karena saya ingin berkontribusi dalam menjaga lingkungan, terutama dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan," ujar Lessy saat dibincangi langsung, Minggu (16/8/2026).
Pilihan profesi ini menuntut penyesuaian fisik yang luar biasa mendalam bagi Lessy, yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan langsung dengan aktivitas luar ruangan. Tugas di lapangan terbukti bukan perkara mudah.
Di balik seragam Manggala Agni yang ia kenakan, Lessy harus memikul puluhan meter selang pemadam yang berat di atas tanah gambut yang labil.
Bersama timnya, ia berjibaku memadamkan kobaran api sembari menahan perih di mata yang terpapar hawa panas serta menahan sesak di dada akibat kepulan asap pekat yang membumbung tinggi.
"Dengan background pendidikan saya yang berbeda, memang membutuhkan penyesuaian yang lebih karena pekerjaan saat ini membutuhkan kebugaran fisik yang ekstra. Tetapi dengan adanya dukungan dan perhatian dari teman-teman di lingkungan kerja, saya bisa menjalankan pekerjaan ini," katanya.
Pemahaman Lessy akan perannya kian terbuka ketika menyadari bahwa Manggala Agni bekerja dalam skema yang komprehensif, yakni mencakup pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran.
Ia menceritakan tugas pertamanya dimulai saat menerjunkan diri dalam patroli mandiri di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir—sebuah kawasan rawan karhutla yang hampir setiap tahun membara.
Di desa tersebut pula, momen paling emosional dalam kariernya terpatri. Saat api membesar dan mengepung kawasan permukiman, Lessy dan regunya berhasil menembus ketebalan asap untuk mengevakuasi warga yang terisolasi.
"Pengalaman pemadaman yang sangat berkesan bagi saya yaitu ketika melakukan pemadaman di Desa Sungai Rambutan, karena pada saat itu kami berhasil membantu mengevakuasi warga dari kepungan api. Di situlah kami merasa bangga karena ternyata kami bermanfaat bagi masyarakat," ungkapnya.
Di balik keberanian itu, kekhawatiran orang-orang tercinta tentu tak terelakkan. Namun, restu dan rasa cemas keluarga justru ditransformasikannya menjadi lecutan motivasi untuk selalu bekerja secara profesional dan mengutamakan keselamatan kerja.
Untuk menunjang fisik di lapangan, ia menuturkan jika dirinya rutin menjaga kebugaran tubuh dengan cara berolahraga, pola makan seimbang, serta mencukupi asupan air dan istirahat agar selalu siap bertugas.
"Keluarga tentu merasa khawatir dengan pekerjaan saya saat ini, terutama ketika saya terlibat langsung dalam pemadaman yang memiliki risiko yang cukup tinggi. Apalagi ketika harus bekerja di lokasi yang cukup jauh dan dalam kondisi api yang besar," tuturnya.
Enam tahun bertahan di Manggala Agni membuktikan bahwa peran Srikandi bukan sekadar elemen pendukung di balik layar.
Kehadiran Lessy menunjukkan jika perempuan mampu berdiri sejajar di lapangan dengan tangguh, profesional, dan bertanggung jawab, terutama dalam menghadapi iklim kerja yang ekstrem.
"Menurut saya, Srikandi berperan penting di Manggala Agni. Perempuan bukan hanya berperan sebagai pendukung, tetapi juga bisa terlibat langsung dalam melaksanakan tugas di lapangan. Kehadiran Srikandi menunjukkan bahwa perempuan dapat bekerja secara profesional, tangguh, dan bertanggung jawab," tegasnya.
Keberhasilannya melintasi berbagai dinamika lapangan juga tak lepas dari iklim kerja yang solid serta dukungan rekan-rekan sejawatnya.
"Sebelum bergabung di Manggala Agni, saya tidak mempunyai pengalaman yang bersentuhan langsung dengan alam. Tetapi sejak bergabung di Manggala Agni, saya lebih berani dan percaya diri dalam menjalankan tugas, berkat dukungan dan support dari teman-teman di lingkungan kerja saya," lanjutnya.
Melalui dedikasinya, Lessy mengingatkan bahwa upaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan tidak dapat bertumpu pada petugas maupun pemerintah semata, melainkan butuh kesadaran kolektif seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
"Lebih baik ngirup cuko daripada ngirep asap. Semoga langit Sumsel tetap biru. Salam Sipongi," tandasnya.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
VIRALViral, Pria Diduga Kepala SPPG di Tebingtinggi Kepergok Istri Sah Dugem Bareng Selingkuhan Berujung Pelaporan
Rozie Winata·28 menit yang lalu -
NASIONALAnggota DPR Desak Evaluasi Sistem Keselamatan Pelayaran
Herman Saleh Harahap·33 menit yang lalu -
-
KRIMINALBawa 44 Bungkus Sabu dari Aceh, Dua Pria Ditangkap di Besitang
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALTinjau API Banyuwangi, Wamenaker Minta Peserta MagangHub Asah Kompetensi
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
PERISTIWAPembangunan Tong Pengolahan Emas di Desa Simalagi Madina Telan Korban Jiwa
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELGubernur Sumsel Tinjau Penanganan Karhutla dan Kondisi Gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTBuddha Tzu Chi Bangun 241 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Padangsidimpuan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOBuddha Tzu Chi Indonesia Kembali Bantu Korban Bencana, 241 Huntap di Padangsidimpuan Dibangun
Fadli Tara·2 jam yang lalu -
KRIMINALMasuk Panti Rehabilitasi, Pasien Narkoba Lapor Polisi karena Ngaku Dianiaya hingga Gendang Telinga Pecah
Rozie Winata·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan