Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak di Rp17.800-Rp17.900 per Dolar AS

Rupiah hari ini diprediksi bergerak di Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS. Investor menanti RDG BI dan data transaksi berjalan.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA diperkirakan masih bergerak terbatas dan berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per .

Mengacu pada analisis Doo Financial Futures, pada perdagangan Selasa (18/8/2026) ditutup melemah 0,36 persen atau 64 poin ke level Rp17.862 per .

Pelemahan tersebut membuat rupiah masuk dalam jajaran mata uang Asia yang mencatat penurunan terhadap dolar AS.

Peso Filipina menjadi mata uang Asia dengan pelemahan paling dalam, yakni 0,50 persen. Selanjutnya, dolar Taiwan turun 0,36 persen, sama seperti rupiah yang juga terkoreksi 0,36 persen.

Mata uang Asia lainnya yang turut melemah yakni yen Jepang sebesar 0,17 persen, baht Thailand 0,16 persen, rupee India 0,06 persen, dolar Singapura 0,05 persen, serta yuan China 0,04 persen.

Won Korea Selatan Memimpin Penguatan

Di tengah mayoritas mata uang Asia yang berada di zona merah, beberapa mata uang justru berhasil menguat terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar, yakni 0,40 persen. Ringgit Malaysia kemudian naik 0,13 persen, sementara dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.

Pergerakan mata uang kawasan tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati dalam menentukan posisi di tengah sejumlah sentimen dan geopolitik global.

Investor Tunggu Keputusan BI

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi sikap wait and see investor menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung Rabu (19/8/2026).

Selain keputusan BI, pelaku pasar juga menantikan rilis data neraca transaksi berjalan yang dijadwalkan pada Jumat (21/8/2026).

Kedua agenda tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter sekaligus kondisi fundamental eksternal Indonesia.

Lukman mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa terjadi ketika investor memilih bersikap hati-hati menjelang dua agenda tersebut.

Ketegangan Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Perhatian

Selain faktor domestik, rupiah juga menghadapi tekanan dari perkembangan geopolitik global, khususnya meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak mentah dunia turut menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS karena investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.

Bagi Indonesia dan negara pengimpor energi lainnya, lonjakan harga minyak juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan serta .

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu diperkirakan masih akan berlangsung volatil. Investor akan mencermati keputusan BI terkait suku bunga serta perkembangan geopolitik global sebagai faktor utama yang dapat menentukan arah rupiah terhadap dolar AS.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait