Nusantaraterkini.co, BATAM-Ketahanan pangan sektor kelautan di Kepulauan Riau mencatatkan capaian positif melalui keberhasilan modeling budidaya lobster besutan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pada Tahun Baru Imlek 2577, Selasa (17/2/2026), pasokan lobster kualitas premium dari Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam sukses membanjiri pasar lokal untuk memenuhi lonjakan permintaan konsumsi.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa skema budidaya yang terintegrasi mampu menjadi solusi pemenuhan kebutuhan protein tinggi di momen-momen krusial nasional. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menegaskan bahwa efektivitas teknologi pembesaran yang diterapkan di Batam telah menghasilkan produk yang kompetitif secara kualitas maupun kuantitas.
Baca Juga : Anggaran KKP 2026 Naik Rp13 T, DPR Usul Bangun 1.500 Kapal Nelayan Merah Putih
“Alhamdulillah saya mendengar langsung dari pembeli hasil budi daya di sini, bahwa hasil modeling terbukti produktif dan berperan dalam menyuplai kebutuhan lobster di Kota Batam, khususnya di Imlek,” ujar Tebe dalam keterangan resminya, seperti dilansir RMOL, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga : Lembaga Baru di KKP Butuh SDM dan Peralatan Lengkap untuk Maksimalkan Pengelolaan Laut
Lansekap budidaya di Batam dikelola di atas lahan seluas 3 hektare yang dilengkapi dengan fasilitas modern, mulai dari ruang pembibitan (nursery) hingga gudang pendingin (cold room). Dengan kapasitas 144 lubang keramba jaring apung, sistem ini tidak hanya mengejar angka produksi tetapi juga memastikan kelestarian lingkungan pesisir melalui sinergi pakan berbasis kekerangan. Upaya ini merupakan bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap regulasi tata kelola lobster agar industri dalam negeri kian mandiri dan berkelanjutan secara ekologis.
Selain lobster, komoditas bawal bintang dan kakap putih juga menjadi primadona baru yang diburu masyarakat Batam untuk santap malam Imlek. Para pelaku usaha perikanan mengakui bahwa tekstur daging dari hasil budidaya BPBL Batam masuk dalam kategori kelas atas yang digemari pasar ekspor maupun domestik. Hal ini sejalan dengan misi ekonomi biru yang mengedepankan inovasi teknologi sebagai penggerak ekonomi maritim nasional.
Baca Juga : Dana Hibah Batam Rp4,7 Miliar Siap Percepat Pembangunan Hunian Tetap di Sumut
Hingga awal 2026, produktivitas benih ikan laut di wilayah ini terus melampaui target, dengan jangkauan distribusi yang meluas hingga ke pelosok Kepulauan Meranti. Keberhasilan ini memberikan optimisme baru bagi para peternak ikan lokal bahwa ketergantungan pada hasil tangkapan alam dapat perlahan digantikan oleh ekosistem budidaya yang lebih terukur dan efisien.
Baca Juga : Bakamla RI Berangkatkan KN Pulau Dana-323 Bawa 92,2 Ton Peduli Sumatra
(Emn/Nusantaraterkini.co)
