Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Prabowo Tegaskan Elite Gagal Kelola Kekayaan Bangsa, Serukan Persatuan Berantas Kemiskinan dan Sampah

Editor:  Fadli Tara
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, BOGOR — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemiskinan di Indonesia tidak boleh lagi diterima sebagai kondisi yang wajar. Dengan kekayaan alam yang melimpah, Prabowo secara terbuka mengkritik kinerja elite nasional yang dinilainya belum maksimal dalam menjaga dan mengelola aset bangsa.

“Kekayaan kita sangat banyak, tapi terus terang saja bahwa unsur pimpinan di semua tingkat—elite akademis, profesor, elite politik, tentara, polisi, hingga yudikatif—harus kita akui masih kurang dalam tugasnya menjaga dan mengelola kekayaan bangsa Indonesia,” tegas Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor, Senin (2/2/2026).

Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak boleh menyerah sebelum bertanding. Menurutnya, tingginya angka kemiskinan merupakan kegagalan yang tidak bisa diterima, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki negeri ini.

Baca Juga : Sekolah di Tukka Tapteng Kembali Berdenyut, Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyemangat Siswa

“Kita tidak boleh menyerah, kita tidak boleh mengatakan ‘Apa bisa? Apa mampu?’ Sikap ragu dan pesimistis hanya akan menghambat perjuangan kita,” ujar Prabowo.

Prabowo pun juga menyerukan persatuan lintas partai dan penghapusan sekat-sekat politik masa lalu. Ia meminta seluruh pemimpin, baik di pusat maupun daerah, untuk membulatkan tekad membenahi diri dan lingkungan masing-masing demi kepentingan rakyat.

“Mari kita bersatu. Tidak ada urusan saudara berasal dari partai mana. Jangan kita terjebak dalam permusuhan sejarah yang tidak relevan lagi. Kita belajar dari sejarah, bukan terbelenggu olehnya,” katanya.

Baca Juga : Prabowo Instruksikan Sekolah Baru Wajib Punya Lapangan Bola, Komisi X: Cetak Atlet Nasional

Selain kemiskinan, Prabowo menyoroti krisis sampah nasional yang dinilainya sudah memasuki tahap darurat. Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia diproyeksikan mengalami kelebihan kapasitas pada 2028, bahkan bisa terjadi lebih cepat.

“Masalah sampah adalah masalah bangsa yang sangat krusial. Ini tidak bisa ditunda,” ujar Prabowo.

Untuk itu, pemerintah pusat telah menginisiasi program pengolahan sampah menjadi energi (Waste-to-Energy) di 34 lokasi di seluruh Indonesia. Total investasi proyek ini mencapai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp58 triliun.

Baca Juga : Gabung Dewan Perdamaian Gaza, Pengamat: Indonesia Punya Posisi Strategis Jadi Penyambung Aspirasi Rakyat Palestina

“Saya minta ground breaking dilakukan dalam beberapa bulan ke depan. Kita perkirakan dua tahun lagi sudah berfungsi,” tegasnya.

Prabowo menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, namun mengingat situasi yang mendesak, pemerintah pusat akan mengambil peran kepemimpinan langsung dalam proyek tersebut.

“Kita tidak boleh menunggu. Demi kepentingan rakyat, bila perlu pemerintah pusat yang memimpin,” tandas Prabowo.

Baca Juga : Swasembada Pangan Tercapai dalam Setahun, Prabowo: Kita Berdiri Sendiri di Atas Kaki Sendiri

(cw1/nusantaraterkini.co)