Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

PMA Kunci Batam Menjadi "Dubai Kecil" di Sumatera

Prof Didik J Rachbini menilai PMA dan ekspor dapat mendorong Batam menjadi pusat investasi dan ekonomi baru di Asia.

Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menyatakan, dalam situasi ekonomi yang tengah menguji daya beli publik, pemerintah harus lebih berani mengambil langkah inovatif, Selasa (29/9/2026).(foto: istimewa)
Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menyatakan, dalam situasi ekonomi yang tengah menguji daya beli publik, pemerintah harus lebih berani mengambil langkah inovatif, Selasa (29/9/2026).(foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, ​JAKARTA— Kawasan Industri Batam dinilai memiliki peluang emas untuk bertransformasi menjadi pusat investasi dan ekonomi baru kelas dunia di Asia, menyerupai "Dubai Kecil" di Pulau Sumatera. Langkah strategis ini dinilai menjadi solusi efektif dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

​Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menyatakan, dalam situasi ekonomi yang tengah menguji daya beli publik, pemerintah harus lebih berani mengambil langkah inovatif yang berorientasi ke luar melalui penguatan Penanaman Modal Asing (PMA) serta ekspansi ekspor global.

​“Dalam situasi seperti ini dimana ada masalah daya beli (konsumsi lemah), kebijakan ekonomi harus inovatif dan terus mencari alternatif. Tidak bisa pemerintah bertahan hanya dengan kebijakan sosial yang ‘inward looking’ dan menghabiskan dana pajak dan APBN secara kurang atau bahkan tidak produktif,” ujar Didik J Rachbini dalam catatan tertulisnya, Selasa (29/9/2026).

​Didik meneladani keberhasilan transformasi ekonomi Vietnam yang bertumbuh pesat hingga 7-8 persen karena konsisten menerapkan skema ekonomi terbuka dan sangat berorientasi pada pasar internasional. Menurutnya, Batam yang dirancang sejak era 1980-an oleh Prof BJ Habibie telah memiliki fondasi geografis dan fasilitas Free Trade Zone (FTZ) yang sangat kuat.

​“Indonesia tidak akan pernah mencapai tingkat pertumbuhan 7-8 seperti dijanjikan jika menghindari kebijakan investasi dan ekspor, yang bererientasi ke luar. Kuncinya sederhana, tiru vietnam saja, yang sekarang berhasil mendorong perekonomiannya bertumbuh tinggi,” tegasnya.

​Selain faktor geografis yang berdampingan dengan Singapura dan berada di jalur pelayaran internasional, dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah juga dipandang membuka celah relokasi arus modal global. Investor dunia yang mencari alternatif kawasan investasi aman berpotensi mengalihkan modalnya ke Asia Tenggara, khususnya Batam.

​“Dengan penduduk lebih dari 2 juta, Batam bisa direncakan untuk menjadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera. Pertumbuhan ekonomi kuartal yang lalu mencapai 7 persen dan dinamis karena saling berinteraksi dengan Singapura, yang sudah penuh sesak,” kata Didik.

Investasi Teknologi Tinggi

​Salah satu pendorong utama optimisme ini, sebut Didik, adalah masuknya investasi teknologi tinggi, seperti rencana proyek Nvidia DSX AI Factory di KEK Batam dengan estimasi nilai mencapai US$4,5 miliar atau sekitar Rp80,55 triliun. Investasi yang menggandeng Firmus Technologies (Australia) dan Day One (Singapura) tersebut ditargetkan mulai beroperasi bertahap pada kuartal pertama 2027 hingga 2028.

​Didik menilai masuknya pemain raksasa teknologi tingkat dunia ini harus dimaksimalkan oleh pemerintah sebagai daya tarik susulan bagi rantai pasok industri teknologi global lainnya.

​“Dengan satu investor besar dan signifikan seperti ini, maka bisa baik 2-3 kali lipat. Kuncinya adalah kebijakan investasi, jika kepala naga sudah masuk dan percaya, maka badan dan ekornya akan segera ikut masuk ke dalam,” terangnya.

Kepastian Hukum

​Guna mewujudkan ambisi Batam sebagai hub ekonomi Asia, Didik mengingatkan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menjamin kepastian hukum, penyederhanaan regulasi, serta iklim bisnis yang transparan dan kondusif bagi para investor asing kelas atas.

​“Nvidia adalah investor global kelas tinggi, bukan investasi PMA kelas cafe dan restoran yang kurang berkualitas. Tinggal pemerintah siap atau tidak melayani minat investor ini. Dengan dinamika yang ada dalam waktu dekat Batam bisa menjadi pintu masuk modal Timur Tengah dan Asia,” pungkasnya.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait